Saturday, August 20, 2011

Garut, Sukalaksana 02 Part Satu


Bermula dari pembicaraan selingan ketika gladi di Telkom Rajawali. Biasalah untuk membunuh waktu yang nggak ada kerjaan. Saya diajak tuk ikut acara PUDING (Perpustakaan Umum Dinteun Minggu) ke Garut. Tepatnya di SD Sukalaksana 2 Desa Neglasari. Isma yang mengajak saya. Mulailah jurus-jurus dan cerita-cerita pikatan agar saya turut serta kesana. Dan walhasil, saya terbujuk juga. Parah, cepet banget kebujuk. Mungkin karna saya sudah (agak) bosan dengan rutinitas yang itu-itu aja. Mungkin.

“Kita berangkat ba’da dzuhur kumpul di parkiran deket MSU y. Nuhun” itu satu-satunya sms yang menandakan saya sudah terdaftar tuk mengikuti acara itu. Entahlah saya juga masih agak ragu tuk berangkat waktu itu, mengingat masih ada tugas lain di kampus. Tapi toh tetep aja berangkat. Hehehe. Packing sekenanya, dan berangkat. Setelah melalui proses yang cukup lama tentang beberapa perdebadan barang bawaan, fix kami berlima berangkat:

  1. Ka Bowo : Paling senior diantara kami berlima. Ciri: berjenggot, dan suka berantem dengan manusia 2. Selalu.
  2.   Mba Eva : Senior cewe dan emang cewe sendiri di rombongan kami. Masih satu angkatan dengan manusia 1. Ciri: Gigi serinya berspasi (cukup) lebar.
  3. Dias : Satu angkatan di bawah saya. Ciri: Item ceria dengan logat sunda yang kecampur-campur.
  4. Habib : Satu angkatan dengan manusia 3 sebetulnya, tapi menjadi anak yang paling Yunior diantara kami. Ciri: Rambut afro tipis dengan suara tinggi.
  5. Adit : Yang ini no komeng. Baca: Ganteng. Hahaha
Sempet saya lihat jam berangkat: 1.50p.m. Perjalanan ke selatan dimulai. Dari macetnya pasar sampai tikungan-tikungan di jalan tanjakan lewat. Kabut yang membatasi pandangan pun lewat. Kami sampai di rumah warga sekitar jam 4 kurang. Ashar di masjid terdekat. Dan nitip motor ke rumah warga tersebut. Tentu setelah nego-nego dan perbincangan singkat dengan beliau.

Perjalanan berikutnya: Hiking. Teorinya 1 jam perjalanan sampai ke tujuan sebenernya. Prakteknya: Ga jauh-jauh beda dari angka 1 jam memang. Istirahat: tiap 5 menitan merupakan hal rutin dalam pendakian. Tentu saja karna kami lumayan bawa banyak barang-barang tuk kebutuhan disana: buku satu kardus, papan tulis, stirofoam, bensin dan tali-temali serta barang pribadi masing-masing. Dan jangan lupakan faktor puasa. Meskipun sebenarnya itu bukan penghalang yang cukup berarti. (Bukan tuk manusia 4 sepertinya).
 

Sekitar jam setengah enam sore akhirnya kami sampai di rumah Bu Euis. Beliau guru di SD yang kami tuju. Kebetulan di rumahnya hanya ada anak bungsunya: Fajri (kelas 5 SD) dan anak sulungnya: Kang Topik (Guru juga). Dan tentu saja dua hari ini ada manusia asing lagi: 

     6. Ridhi : Satu angkatan dengan saya. Ciri: botak berkacamata. 
     7.      Ali : Satu angkatan dengan saya juga. Ciri: cara ngomong yang kental dengan logat Makasarnya. 
     8.      Ina : Satu angkatan dengan saya juga. Ciri: cewe lain lagi yang sepertinya sangat dekat dengan anak-anak.

Istirahat sebentar, dan bahasan berikutnya tentang mandi. Ya mandi. Jangan Tanya tentang seberapa dingin airnya. Bayangkan saja air botol yang ada di kulkas, tapi bukan sebotol volumenya, tapi satu bak mandi penuh. Caria man: saya cuman gosok gigi dan cuci muka saja. Tak lama kemudian adzan maghrib terdengar dari jauh, sayup-sayup. Buka puasa seadanya: ikan goring, krupuk, sayur temped an sambal. Rasanya cukup banget mengganti sepenggal nyawa yang berjatuhan di jalan beberapa jam lalu. Selesai makan: sholat di masjid di deket rumah. Jaraknya dekat sekali. Seperti dari Gedung A ke gedung B. cuman bedanya jalannya nanjak, lumayan curam. Bukan maksud tuk tidak khusyuk pas sholat, tapi lampu masjidnya mati, nyala, mati, nyala. Efek daerah pedalaman sepertinya. Selesai sholat, kembali ke rumah Ibu Euis: Tilawah dan siap-siap tuk tarawih. Tarawihnya sama saja kok. Tapi nggak ada ceramah selang Isya dan Tarawih. Ditutup salam-salaman bersama, kami kembali lagi ke rumah.

Briefing tuk besok. Pembagian posisi dan rundown kasar dibuat bersama. Dan saya kebagian jadi wali kelas 2. Ya, kelas 2 SD. Katanya mereka sudah bisa dan ngerti Bahasa Indonesia. OK lah tak apa. Piker saya. Mereka pun harus pulang jam 11 siang. Yang perlu disiapin malam itu cukup video anak yang lucu dan bermakna. Dapet malem itu? Nggak lah. Keburu tidur sebelum dapet video yang tepat. Hehehe. Manusia 1 wali kelas 1. Nggak beda jauh dengan saya: pulang jam 11 dan harus nyiapin video. Manusia 2 wali kelas 3. Manusia 3 dan 8 wali kelas 4. Manusia 4 dan 7 wali kelas 6 dan manusia 6 wali kelas 5. Persiapan masing-masing wali berhenti sebelum jam 12 malam: tidur.

Esokya (baca: beberapa jam setelah kami tidur), kami bangun tuk sahur. Makanan sahur sudah tertata rapi di tempat biasa kami makan. Dengan mata dan muka masih (agak) ngantuk, kami pun sahur. Tema omongannya adalah: dingin malan ini. Mbahas tentang pindah tempat tidur gara-gara kedinginan lah, mbahas tentang alarm yang bunyinya nggak ketulungan keras dan seringnya. Ya itulah sahur kami hari Selasa 16 Agustus 2011 kemarin. Dinginnya masih terasa karna memang rumah Bu Euis bermodel rumah panggung. Pintu-jendela tertutup, dingin pun masuk lewat lantai kayu. Dari bawah kaki. Selesai sahur, sholat subuh, tilawah, mandi. Mandi bro, air sedingin es. Tapi begitulah cerita serunya. Ngantre kamar mandi itu kegiatan rutin tiap pagi dan sore. Walaupun dari dalem kamar mandinya bisa ngeliat bulan bulet diatas kalo malem. Dan bisa terang benderang kena sinar matahari kalo siang (baca: bolong atepnya). Tapi tiap pagi dan sore selalu jadi rebutan.

Sekitar jam 6 pagi: anak SD mulai terlihat ada yang berangkat. Pagi sekali. Dua jam lebih awal dari jam mulai acara: jam 8.00. Subhanallah.., pertanyaannya: mandi jam berapa dia? Airnya aja dinginnya dingin sangat. o_0a?? Eits, jangan kira rumahnya deket. Perjalanannya aja rata-rata satu jam. SATU jam tuk ke sekolah. Si anak udah rapi aja dengan seragam merah putihnya, lengkap dengan topi dasi dan rompi SD. Unyu, lucu, kucel, cantik, cakep dan polos.

Acara pun dimulai: persiapan. Pengenalan ruang denah SD buat manusia 2,3,4,5. Sambil nunggupersiapan tuk upacara harian, saya sempatkan mandi: langsung merindukan air panas di Rumah Brebes. Aaaahhh.., nikmat sepertinya mandi pake air panas disana. Kenyataannya: air dingin yang mudah didapatkan,OK lah, mandi pun menggigil kedinginan. Tapi setelahnya, badan terasa lebih hangat. Mungkin karna sudah saya kenalkan dengan bersentuhan langsung dengan air disana. Tubuhku emang pinter. Hehehe. Hal bodoh yang pertama adalah: saya nggak bawa sisir. Dulu pas saya mau bawa, saya piker temen-temen cowo yang lain pada bawa. Ternyata nggak ada yang bawa seorang pun. Iya lah., orang mereka pada “botak” semua. Saya sendiri yang nggak botak. Mana ada sisir di pikiran meraka pas mau bawa.

Ganti celana, pake vest, ganteng dan berangkat ke TKP: SD Sukalaksana 02. Jaraknya seperti dari Gd.E ke Gd.F IT Telkom. Deket. Upacara pembukaan pun dimulai. Lagu anak-anak mengiri acara pembukaan dan sedikit senam pagi. Ceria. Kocak. Unyu. Rame. Menit berikutnya kemudian penyerahan anak-anak ke wali kelasnya masing-masing. Kelas 2 dipanggil. Saya bawa mereka ke suatu tempat. Mereka diam, nurut dan antusias. Nggak banyak ngomong dan rewel meraka terus aja ngikutin saya ke suatu tempat. Ya, mereka sangat penurut dan diam…………
….
#Tantangan dimulai. Kelas 2. Siapa yang bakal ngedominasi. Cerita baik atau burukkah nanti yang saya ceritakan?

Friday, August 12, 2011

Merasa Telat Kembali...

Hari ini tanggal 13 Ramadhan. Kalo saya lihat lagi 12 hari kemarin, hari pertama Ramadhan. Jujur, saya belum merasakan Ramadhan "datang". Bukan untuk menyalahkan beberapa pihak dan aktifitas. Tapi memang sudah dua Ramadhan ini saya belum dapat feel tentangnya. Bisa dibilang telat merasakannya.

Meskipun tahun ini saya dapat pengingat yang hebat sekali. Ayah telfon di hari pertama tuk mengingatkan sahur sambil mengingatkan tuk tilawahnya diperbanyak. Ibu sms tuk jaga kesehatan: tak jauh-jauh dari harus makan buah-buahan. Harus dan wajib. Ga ada pilihan lain. Ya Bu.,adit bakal makan buah teratur., jawabku dalam hati.

Hari berikutnya mulai ada kenaikan yang berarti. Selaras banget sama kenaikan jumlah jama'ah di masjid sebelah kostan. Hari-hari berikutnya: makin menurun seperti jama'ah yang makin sedikit pula. Astaghfirullah...
Entah kenapa, mungkin telinga ini sudah bebal tuk mendengar seruan-seruan para da'i yang penuh semangat mengingatkan tuk kebaikan dijeda sholat isya dan tarawih. Hanya 'terbakar' di tempat saja. Sepulang dari masjid: tersisa hanya baranya saja. Astaghfirullah...

Saya masih inget dua hari kemarin. Ayah tiba-tiba telfon. tepat waktu sebelum ashar. Basa-basi sedikit seperti biasa. Dan pertanyaan yang terasa menagih dan mengharap: "Tilawahnya dah sampe mana?". Alesan alesan alesan yang muncul dari kerongkonganku. Astaghfirullah.. padahal saya tahu. Beliau sedang ada di Masjid. Tentu saja tuk memotivasi putra keduanya ini biar bisa ngikutin aktif di Masjid: nambah keimanan. Tapi yang didapat cuman alesan saja. Mengecawakan.

Terlepas dari begitu banyak cobaan yang terjadi, nampaknya saya masih begitu bebal tuk kembali. Kemali ke jalan yang diridhoi-Nya. Astaghfirullah.., itu bukan suatu alasan tuk menjauh. Dan tidak ada suatu alasn tuk menjauh.


Karna Allah merindukan tetesan air mata kita tuk memohon ampunan pada-Nya dan rasa rindu kita kepada-Nya. Yah., Allah rindu kita menangis meminta perlindungan dan bantuanNya.

#Semoga bukan sebatas tulisan saja., Kembalilah sesuai targetanmu....

Sunday, August 07, 2011

Ayah Hunter...

Mungkin sudah menjadi sifat alami manusia untuk 'merasa sesuatu yang tentram' ketika melihat wajah seorang anak kecil yang lugu dan polos. Seperti ada sesuatu yang terpanggil. Jauh sebelum kita bisa mengenal apa itu huruf dan angka, saat kita ingin berlari kemana saja yang ingin kita tuju. Yah.,masa kecil kita yang saya yakin punya banyak makna.

Awalnya dari Ramadhan ke-5 kemarin. Seperti biasa, sebelum adzan isya, saya sudah berangkat ke masjid sebelah kostan. Maklum, biar dapet tempat: karna semenjak Ramadhan, masjid sebelah kostan jadi makin penuh dan berjubel. *Salah satu keajaiban Ramadhan mungkin penyebabnya.

Isya berjama'ah usai, waktunya tuk menyimak kultum (bahasa kerennya: tausiyah). Tentu saja imam yang mengisi kultum. Sudah tradisi di wilayah sukabirus nampaknya. Selang beberapa saat, pencarian pun dimulai. (Alhamdulillah saya kebagian shaf yang ke-2 dari 4 shaf). Awalnya saya masih fokus nyimak kultum. Tiba-tiba ada anak kecil lari ke depan saya. Sepanjang shaf ke-2 dan berhenti sekenanya di depan salah satu jama'ah. Entahlah siapa. Random, random sekali. hehehe. Dengan wajah mungil dan lucunya: wajahnya selalu senyum gitu, jadi bikin gemes.hahaha. "Ayah mana??" kalimat itu yang saya dengar. "Hah?? Ayah Mana?? Hah??" yang ditanya pun hanya senyum-senyum nggak jelas. Entah karena dia nggak tahu, atau karena dia (agak) malu.

Belum puas dengan satu orang, anak itu lari lagi ke barisan shaf ke-2. Berhenti sekenanya dan "Ayah mana?? Hah?? Mana??" hahaha. Orang kedua sama halnya dengan orang pertama: malah balas senyuman si bocah. Si anak lari lagi. Kali ini giliran shaf pertama yang kena: Lari (lagi) dan berhenti sekenanya (kembali). Jawabannya sama: membalas pertanyaan dengan senyuman. Si anak lari lagi di barisan shaf pertama. Tapi kali ini dicegat sama bapak-bapak. Kemudian jurus yang sama dilontarkan oleh si anak: "Ayah mana?? Hah??". Bapak tersebut kemudian menjawabnya dengan bahasa tubuh yang nggak saya ngerti. Bahasa kebapakan nampaknya. Mengayomi. Entah maksudnya apa, tapi si anak tahu. Hehehe *saya kalah sama anak kecil.

"OK pak, saya ngerti" mungkin itu yang ada di pikiran anak kecil itu. Selepas dari bapak yang tadi, dia lari lagi. Shaf pertama lewat. Shaf kedua lewat juga. Lewat juga shaf paling belakang laki-laki dan masuk ke wilayah shaf kaum hawa. Tentu aja itu artinya kembali ke ibunya. Kata-kata bapak yang tadi manjur sekali. Hmm., beliau ayahnya berarti, pikirku dalam hati. Dan saya baru inget: Kultumnya woy., hahaha. Sampe kelupaan masih ada kultum yang harus disimak.
Lumayan lah, buat saya: jadi pengen punya satu anak yang kaya begituan. Loh???
Buat jama'ah lain: sepertinya itu penawar ngantuk yang mujarab. hehehe

Kultum selesai. Lanjut tarawih. Sekitar jam delapan lewat, selesai juga ibadah trawehnya yang ditutup sholat witir. Nggak lama kemudian, anak-anak maju ke shaf depan: minta tanda tangan. Masih inget buku Ramadhan kan?? Dan si anak kecil yang tadi pun ikut maju ke depan. Tapi tentu aja bukan untuk minta tanda tangan (konyol). Tapi untuk bertemu Ayahnya. Oooh.., yap., Ayahnya adalah pengisi kultum. Dan seorang imam juga. Setelah Ayah tercintanya dipeluk, anak itu terlihat begitu nyaman duduk di pangkuan Ayahnya.

Hmmmmm.....

Sunday, July 31, 2011

Selamat Berlatih Menahan Diri (baca:Puasa) di Ramadhan Tahun ini


Sejak H-3, hari pertama Ramdhan mulai populer. Ya, karna saudara dan hampir semua teman-teman saya mengirim sms penyambutan Ramadhan ini dengan kata-kata yang indahnya. 'Iya., udah saya maafin kok.,=)' jawab saya dalam hati saat sms masuk. Terima kasihku untukmu teman karna telah mengingatkanku tentang Ramadhan yang penuh dengan maaf dan kelapangan hati. ^^

Jangan sampai Ramadhan ini hanya sebatas tradisi agung dalam sebuah peribadahan saja.
Jangan hanya mengharap outputan yang megah dan penuh makna semata.
Dan jangan hanya mendapat proses yang biasa-biasa saja.

Cukup tidaknya suatu kesiapan seseorang itu memang berbeda. Karna tantangan di tiap Ramadhan pun pasti berbeda. Sejauh mana kita mengenalnya dan mengenangnya dengan baik sebagai suatu pelajaran indah dan berharga. Tentu untuk kebaikan kita nantinya saat tantangan itu bertamu lagi dalam hidup kita. Karna kita sudah punya tawaran solusi dan penjinak yang akan menjamu dan menemaninya sampai tantangan itu pulang (baca:terselesaikan).

Bukan saatnya tuk terlena dan bermegah-megahan di hari pertama Ramadhan ini, karna masih ada 30 hari lagi dengan kisah dan skenario terindah yang Allah berikan di Ramdhan ini. Dan bahkan setelahnya pun masih ada bulan-bulan lain lagi yang bener-bener menuntut kita tuk menahan diri (lagi). Karna hanya di Ramadhan, 'pengondisian' itu ada. Mulai dari TV,tempat hiburan,makanan,minuman,dll. Selepas 'pengondisian' itu hilang, pantaskah kita masih disebut sebagai 'peraih kemenangan'? Tetaplah menikmati prosesnya dengan bertahap kawan.^^

Tetap jaga kesehatannya, tetep jaga kebersihan niat dan keimanan kita.
Tetap syukuri dan nikmati proses pelatihan menahan diri ini dengan senyum dan ikhlas di hati.
Dan tetap cross check kembali targetan yang akan dicapai di Ramdhan ini. *Kaya buku Ramadhan pas waktu kita SD dulu.^^



Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1432 H
Semoga kita tetap dalam nikmat Islam dan sehat dalam menikmati prosesnya, semoga amalan ibadah kita mendapat kebaikan yang digandakan seperti janji-Nya, dan semoga kita dimudahkan dan dibukakan hati dan raga kita dalam mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah, Yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Amiin y Rabb...

#Selamat Menunggu Jam-Jam Kedatangan Ramdhan

Friday, July 29, 2011

Fisik Lelah itu Biasa, Kalo Hati yang Lelah: Naudzubillahimindhalik..


Hari ini hari pertama saya jadi seorang 'pengawas'. Tentu saja dari namanya sudah cukup jelas sekali kalo tugasnya adalah 'mengawasi'. Bawa selembar kertas tuk nyatet point-point yang perlu dibenahi dan diperbaiki, dan satu kertas lagi tuk melihat rundown kasar acara.

Pagi saya berangkat. tepat seblum jam 6 pagi. Mengenang masa 2 taun yang lalu ketika saya jadi peserta PDKT 2009. 'Botak' hehehe. Masuk,briefing sebentar,cross check kelengkapan dan peraturan *alhamdulillah lolos, dan pasang mata dan tangan tuk ngawas. Asyiik kan?? Belum tentu.

Entah kenapa, perasaan saya ketika 'mengawasi' itu agak kurang fit dan sesuai. Mungkin bisa dibilang tekanan batin. Yah., karna saya mengawasi FMT yang sekarang. Notabene'y dulu saya juga jadi bagian dari tugas mulia dibalik title FMT itu: memberi makan dan merawat orang sakit. *Beuh.,ganteng gila tugasnya.,hehehe^^. Dan itu yang membuat saya punya tekanan batin tersendiri. Merasa masa sendiri yang lebih baik dari masa yang sekarang, serba mencari kesalahan, dan yang paling parah: (agak) looking down sama masa yang sekarang. Astaghfirullah.,

Entah karna niat saya yang salah, atau memang itu tugas dari seorang pengawas, tapi overall saya tetep nggak sreg sama tugasmya. Hanya liat, catat, diam, nanya hal teknis, dan senyum-senyum nggak jelas saat ketemu sama panitianya. ckckckck.. Dan sebelum sholat jum'at adalah berikutnya, ketika panitia binroh datang, perasaan bersalah datang lagi. Yah., saat ada yang membutuhkan suatu syiar dakwah, saya malah 'menghindar'. Seharusnya saya malu pada Mu Ya Rabb...Astagfirullah....Dan selese jum'atan, saya menanggalkan atribut sebagai pengawas.

Sekitar jam 2 siang, saya keluar (lagi) tuk ngambil motor saya di bengkel. Kata akang teknisinya hari ini sudah bisa diambil. dan ternyata sampai disana belum selese juga. "Barang-barangnya baru nyampe tadi siang mas, jadi baru dipasang sekarang, paling kalo mau diambil hari ini y ntar sore mas" begitu kata akang teknisinya. Ya sudahlah saya putuskan tuk dateng kesana lagi besok siang. Dan sekarang adalah hari ke-7 garasi kostan terlihat kosong dan longgar tuk diisi motor saya. T_T

Berita yang (agak) menohoknya bukan hanya sampai disitu saja. Mulai banyak orang yang tahu kalo motor saya korban dari seseorang yang dikenal dengan kecerobihan dan kengerian ketika berkendara motor. "Bodoh banget kamu sampai ngasih minjem". Mungkin seperti itu yang ada dipikiran orang yang udah tau watak dan sifat dia. Yah., luka lama kebuka (lagi) akhirnya. Ya sudahlah.., saya hanya percaya Allah punya sesuatu yang indah yang tersimpan rapi di baliknya.

Dan bukan sampai disitu saja hati ini mulai teriak. Ibarat kata: sudah jatuh,tertimpa tangga pula. Malem ini giliran tangga itu yang jatuh. Malem ini adalah malam briefing tuk tradisi acara RW.13 Sukabirus: Pawai Obor. Semua persiapan sudah cukup siap menurut saya dari pihak kami (mahasiswa). Hanya ada satu hal yang kurang. Cukup penting. Dan tugas itu saya serahkan ke teman saya, berharap akan lebih cepat selesai jika dikerjakan bersama. Tapi yang saya baca adalah suatu kesalah pahaman dan sebuah aturan. OK lah., saya terima, tapi hati ini sudah cukup lelah tuk menahan beban kata-kata orang dan egoisme saya pribadi. Marah?? Lebih baik energinya disalurkan ke tempat yang bener dari pada marah. Mogok?? Saya masih punya pertanggung jawaban sama Dzat Yang Maha Adil dan Bijaksana kelak. Ngambek?? Sepertinya itu bukan waktu yang tepat, mengingat itu bukan suatu problem solving. Saya hanya membuat masalah stagnan di tempat saja pada akhirnya: 'biarin aja lah., bete banget ngurusnya'


Dan saya sekarang hanya menyimpan semuanya di hati. Entahlah seberapa capenya hati ini, tapi mau gimana lagi?? Saya hanya berdoa tuk menyerahkan hati ini ke Dzat yang Maha Mempunyai Hati. Saya hanya butuh cahayanya, butuh pengampunannya, butuh kelapangannya, butuh kelembutannya, butuh ketabahannya, dan butuh keikhlasan dari-Nya., dan butuh semua hal yang menyegarkan kembali hati ini. Yah., apalah fisik yang fit tanpa diimbangi hati yang fit dan tak lelah pula.

Bermula dari niat yang akan saya luruskan.,semoga tugas mengawas tuk esok hari bisa lebih fit hati ini... amiin y Rabb...
 
Copyright (c) 2010 Bermula dari Awal and Powered by Blogger.