Tuesday, September 20, 2011

Ideal VS Realis

Ada kesan tersendiri ketika sore ini saya dengan teman-teman kelas TT3305 registrasi praktikum semester ini. Sudah menjadi rahasia umum kalau proses registrasinya memakan waktu, tenaga dan pikiran lebih. Bahkan hanya sekedar masuk webnya.


Ada satu dosen yang asyik dan mungkin menjadi dosen favourite kelas kami: Pa SAO panggilan kami ke beliau. Muda, akrab, humoris, dan asyik untuk jadi sekedar teman curhat. (bahkan bukan hanya sekedar saja, bisa lebih malah).


Kebetulan ruangan beliau memang exclusive karena satu ruangan hanya beliau saja yang nempatin. "Ada enak sama nggak nya lah.." Jawab beliau pas kami iseng-iseng tanya enaknya punya ruangan serasa milik sendiri. Kami registrasi praktikum di ruangan Pa SAO. Itung-itung nemenin beliau biar nggak sendirian di ruangannya. hehe #Alibi. Berfasilitaskan lengkap: AC, projector, Mac PC dan kursi serta meja untuk diskusi dan santai. Registrasi dah kami. Mayoritas kambuh penyakit lamanya: #Galau. hahaha


Sembari menunggu temen-temen yang lain registrasi praktikum, kami bergerombol ngobrol-ngobrol santai dengan beliau. Kocak memang. Curhat pun ada. Serius sesekali. Petuah (kami menyebutnya wejangan) pun tergali banyak dari beliau. Dari hal yang sepele sampai yang bertopik berat pun terforumkan. Hal yang pribadi sampai mbahas gosip kelas dan blak-blakan pun terlontar pula. haha


"Waktu saya ngerjain Thesis, topiknya kan "....." (saya lupa, abisnya baru denger euy), pikiran saya tuh kayanya bakal wah, kan soalnya belum banyak yang make, trus juga teknologinya bagus banget. Biasalah mikir ideal. Tapi thesisnya ngaret sampe satu semester. Trus ya udahlah saya mikirnya realis aja, yang penting lulus. hehehe" cerita Pa SAO.


"Jangan terlalu ideal banget lah jadi orang, coba liat juga aspek realistisnya.."
#Petuah Pa SAO


Selamat berbuka puasa syawal #4

Monday, September 19, 2011

Seharusnya....

Nyaris dua minggu sudah sejak akhir libur lebaran kemarin saya di Bandung. Notabenenya pasti untuk menuhin amanah. Amanah dari orang tua: Kuliah dan amanah organisasi: Pengmasy. Senang itu pasti. siapa sih yang nggak seneng ketemu sama temen yang satu pikiran, satu frekuensi dan satu hati: nyambung tuk bebas ngeluarin unek-uneknya dengan tawa dan canda?

Sholat Jum'at pertama saya setelah libur lebaran dapat sesuatu yang menggugah sekali. Tema khotbahnya (cukup) sederhana: Silaturahim. Tapi ternyata ketika dikaji lebih dalam lagi: kompleks. Dimulai dari keluarga, sampai orang lama yang jarang kita temui: itu silaturahim. Akhirnya saya merasa: saya belum cukup (dan sepertinya masih jauh) dari kata menjaga silaturahim dengan baik. Menyedihkan.

lalo Jet-lag itu kondisi tubuh yang belum bisa beradaptasi dengan baik setelah melakukan perjalanan (biasanya pesawat), mungkin saya juga merasakan hal yang sama. Belum dapat feel kuliah lagi dengan baik. Apalagi dengan kuliah yang sepekan full dimulai dari shift 1 (jam 06.30 a.m). Perbedaan makin terasa.


Sisa amanah (hampir) 4 bulan pun semakin menegaskan kalau pikiran saya sepertinya masih tertinggal di Brebes. Parah. Setidaknya untuk satu minggu pertama. Selebihnya: saya sadar, saya sudah tahun ketiga kuliah di IT Telkom. Bukan suatu hal yang baru lagi kalau deathline dan tekanan bagi seorang mahasiswa tahun ketiga. Seharusnya. Dan pasti sudah menjadi kebiasaan dan punya solusi tersendiri untuk mengatasinya. Seharusnya (lagi). Kegiatan dan pola pikirnya pun sudah mulai mengarah ke satu bidang: Telekomunikasi. (Dan lagi) seharusnya. Softskill yang digembar-gembor dosen dan kampus serta buku-buku pun mulai terbentuk rapi di kehidupan sehari-hari: saat organisasi, kuliah, dsb. Seharusnya (lagi).


Karna seharusnya semua itu bukan hanya dipikirkan dan sampai hati saja.
Aksi yang diperlukan.
Karna kelak, hati dan pikiran (mungkin) tidak akan sejalan dengan aksi.
Aksi yang diminta oleh keadaan sekitar.


Hari ketiga puasa syawal....

Saturday, September 03, 2011

Merangkum Ramadhan 1432 H, Spectacular

Saya akui, memang Ramadhan kali ini terasa (sangat) berbeda. Memang tiap Ramadhan itu harus berbeda: kualitas ibadahnya harus meningkat tentu perbedaannya.

Perbedaan itu membuat Ramadhan tahun ini unik. Semua perasaan terasa semua:senang, sedih, marah, kecewa, sakit, malas, rajin, putus asa, semangat, sabar, futur, dll.

Mulai dari penyambutan datangnya Ramadhan dengan tradisi pawai obor warga RW 13 Sukabirus. Dan entah kenapa awal Ramadhan yang atmosfernya baru terasa lama setelah bulan itu datang. Sedih, dan berdosa sekali. Buah bebal yang makin besar.

Gladi yang mayoritas mencari kesibukan sendiri tuk membunuh waktu. Pathetic. Amanah baru yang terkadang mendesak hati tuk suudzon. Astaghfirullah...

Malam Ramadhan yang seharusnya diisi dengan beribadah, malah nonton film Harry Potter  7 Last Part dan Transformer 3 The Dark Side Of The Moon 3D. Wow… seru, tapi pulang malam di Bandung agak ngeri. Karena memang sedang cukup nyaring tentang geng motor. Hmmm.. anak muda.

Sampai Dialga (nama motor saya) yang harus bolak-balik keluar bengkel tuk perawatan (atau mungkin perbaikan). Sedih,marah dan kesal.

Targetan Ramadhan yang semakin hari semakin memanggil meminta tuk dikerjakan dan dicapai. Stres dan penuh tekanan. Dan kondisi badan yang mulai sampai di titik puncak akan jatuh sakit.

Tapi, tetap saja jiwa petualang itu tetap ada. Pengalaman baru dan pengetahuan berharga tentang arti perjuangan dan semangat menyambut. Senang, terharu dan ngilu. Semangat ter-charge kembali. Yah, merasakan indahnya Ramadhan di tanah orang yang belum pernah sama sekali saya kesana. Ditambah pengalaman tujuh belasan yang ceria dan menambah mozaik hidup lebih lengkap dengan warna pengalaman dan perasaan baru.

Namun tetap saja rasa sakit datang kembali: Jatuh dua kali dari motor (mungkin) membuat saya tahu apa arti sakit dan perjuangannya menahan sakit. Hehe. Putus asa, nyaris. Jatuhnya itu (mungkin) tak masalah besar. Dengan menyisakan luka kecil tapi perih dan menyiksa sangat. Tapi melanjutkan sisa perjalanan dan keesokan harinya itulah yang menjadi masalah (cukup) serius. Tidak sholat tarawih di masjid selama (nyaris) seminngu berturut-turut. Sholat pun harus dengan posisi yang tidak semestinya dilakukan orang normal:duduk. Air yang sebelumnya teman, kini jadi lawan yang harus dihindari. Gerak tubuh terbatasi karna luka itu di bagian yang (cukup) vital:kaki bagian lutut dan tangan (pangkal jari). Butuh waktu seminggu tuk memulihkannya. Bahkan lebih tuk kesembuhan total.

Kemudian lebaran yang terasa sepi (Lebaran hari Selasa memang sepi rasanya). Perasaan aneh mengingat amalan saya banyak yang turun dan mungkin sedikit di bulan Ramadhan tahun ini. Astaghfirullah...

Satu hal lagi:puasaku tahun ini tidak genap 29 hari. Bolong satu hari akibat kecelakaan yang (agak) konyol tapi sakit dan menyiksa. Targetan Ramadhan yang meleset dan tidak tepat di tengah-tengah sasaran. Nyaris. Sedikit lagi. Justru membuat hati semakin sakit dan terpuruk. Parah. Astaghfirullah...

Walau banyak penawar rasa-rasa negatif dengan berbagai cara dan obat yang Allah berikan: acara buka bareng dengan teman-teman SMP, Safira (nama kelinci punya Kaka yang sengaja dibawa dari Jogja), keluarga yang berkumpul semua, acara lebaran (hari Rabu) yang menyenangkan dan sakral, sampai lelucon-lelucon dan cerita-cerita aneh dan lucu serta petuah-petuah yang terangkum seru dan apik tuk diingat. Dan saudara (keponakan) baru lahir. Tepat di waktu lebaran malam (Waktu lebaran yang mengikuti ketetapan pemerintah). Yah, kelak bayi lelaku itu akan memanggilku dengan sapaan “Pakde”. Argh.., panggilan yang sangat menegaskan kalau aku bukan remaja lagi. Melainkan sudah dewasa. Alhamdulillah., warna ini yang membuat Ramadhan ini begitu berbeda.


Karna tak begitu lama menikmati kenikmatan suasana Iedul Fitri, Ayah harus kembali berangkat kerja ke Kalimantan. Berangkat tanggal 1 September tuk mengejar pesawat. Dengan kondisi kesehatan yang tidak sepenuhnya sehat:masih batuk. *Ya Allah jagalah Ayah hamba,peliharalah Beliau agar tetap sehat dan tetap fit dalam menunaikan ibadahnya (ibadah kepada-Mu dan ibadah mencari nafkah) amiin y Rabb....

Ramadhanku begitu asyik dan penuh warna
Bukan warna terang dan indah saja
Warna gelap dan buruk pun ikut serta
Karna aku terlalu naif tuk mendapatkan satu warna saja. Tentu
Semoga cerita Ramadhan tahun ini menjadi bekal yang berarti tuk 11 bulan berikutnya.

Taqobalallahu Minna Waminkum
Selamat Idul Fitri 1432 H
Minal Aidzin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir Batin

Maaf ku tuk semua curhatan dan cerita abu-abu
Dan Maaf tuk semua prasangka, pikiran, perkataan dan tindakan yang (sangat) keliru dan berlebihan

Semoga kita dipertemukan kembali di Ramadhan tahun depan

Amiin 

Monday, August 29, 2011

Lagi, harus merenungi kata-kata orang tua


Bermula dari hasil pertemuan dengan panitia HUT RI di RW.13 Sukabirus.Hasilnya benar-benar diluar dugaan.Hanya ada kata diundur.Diundur.Walhasil, jadwal agenda pulang yang sudah disusun matang jauh-jauh hari pun harus dan kudu dirancang ulang.Total.


Awalnya saya mengagendakan pulang tuk tanggal 22 Agustus 2011, karena memang hari itu sudah bebas agenda di kampus.Jadilah saya agendakan tanggal 20, dua hari lebih awal.Agendanya diganti dengan berpetualang pengalaman di Garut dengan teman-teman PUDING sampai hari Rabu. *Baca kisahnya ya... part 1,part 2, part 3, dan part 4.


Sepulangnya dari Garut, saya masih harus mengurusi laporan gladi yang memang sudah mepet 'garismati': hari Jum'at. Lumayan kelimpungan lah mengerjakan 'sendiri' dengan koneksi internet kostan yang tiba-tiba mati.Benar-benar cobaan yang menguras pikiran. Plus dengan kondisi kaki yang masih belum sehat betul akibat keteledoran naik motor. Jatuh.


Tapi Allah memang sangat baik.Baik sekali malah.Maha baik.Laporan selesai tepat waktu. Alhamdulillah... Fix jadi pulang tanggal 20. Pasti.


Hari sebelumnya, Jum'at. H-1 sebelum pulang, ada eval PUDING tentang acara empat hari silam: ke Garut. Banyak masukan yang perlu diperbaiki itu pasti.Dan akhirnya, banyak 'PR' yang perlu dikerjakan.Tentunya.


Selesai eval, matahari sudah sepenggal nyawa: nyaris maghrib. PUDING dapat undangan buka bareng dengan Teteh Ibunya Lutfan.Tempatnya dekat.10 menit dengan motor.Mungkin kurang. Alhamdulillah..,Tetehnya baik. Kami sharing sepuasnya.Dapat info dan cukup masukan yang berarti pula.Plus beberapa baju (mungkin) karna Tetehnya juga sekalian baju gamis.*promosi.Hehehe. Puas dengan tingkah lucu Lutfan (nama anak Tetehnya), dan puas cerita-ceritanya, kami pulang. Jam 9 malam.


Saya berdalih tuk packing tuk pulang besok pagi. Kenyataannya sesampainya di kostan justru sebaliknya: setelah solat malah main game. Parah. Selesainya sudah ditebak apa: tidur. Parah banget.


Seperti biasa, saya dibangunin Ibu Kost tuk sahur.Tapi ada yang aneh, jam 4 beliau baru mulai ngebangunin orang yang suka tidur malam ini. Beliau bangun kesiangan, akhirnya hanya masak sekenanya yang bisa siap saji: mie instan dengan telur bulet. Alhamdulillah, memang sudah dua Ramadhan ini tiap sahur, anak kostan selalu dapat sahur gratis dari Ibu Kost.


Sahur, shubuh, dan packing.Tapi entah kenapa saya ketiduran sampai jam 8 pagi. Parah. Agenda pulang tertunda sekian jam. Mandi secepatnya, beres-beres kamar, pamitan dan cao. Jam 9.45 saya bertolak dari kostan. Saya tidak langsung ke Brebes, tapi sempat membeli oleh-oleh terlebih dahulu ke kota. Sip, sudah komplit, I'm coming home....


Sempat lihat jam tangan, jam 10.16 masih di perempatan Carefour. Cukuplah tuk bisa buka di rumah bareng Bapa Ibu dan keluarga.Pikir saya dalam hati.

Satu jam pertama memang tidak ada sesuatu yang aneh. Hanya perasaan 'aneh' saja yang selalu mampir: mulai dari belokan-belokan yang terasa berat, nyaris terserempet mobil, banyak kendaraan yang membunyikan klaksonnya lah, dan Dialga (nama motor saya) yang terkadang mati mesin.

Dan puncaknya adalah ketika baru sampai sepertiga perjalanan.Tepat waktu Dzuhur. Memang sudah saya niatkan akan berhenti di masjid terdekat. Tapi 10 menit lebih belum ketemu masjid.Karena memang masih dalam keadaan gunung, bukan daerah pemukiman.Belum.Masih harus naik turun dulu.Sampai di suatu turunan, saya tetap ngotot mempertahankan gas, tidak mengurangi kecepatan Dialga.Turunan kemudian berbelok ke kiri sedikit. Tentu saya menyesuaikan stang ke kiri, tapi...

GUBRAK..;*#&@*+!*;-#+@'

Dialga jatuh, saya terbanting ke kiri tapi tubuh masih menempel ke badan Dialga, tak mau melepaskannya.Berharap bisa bertahan.Akhirnya tangan sarung tangan robek parah. Apalagi tangannya: meninggalkan luka yang menganga tepat dipangkal belakang jari manis. Sakit, perih.


Kaki kiri pun tak luput.Lututnya yang kena.Meninggalkan dua luka yang parah perihnya.Dan kepala bagian atas kiri pun tergores.Bukan luka goresan berbentuk petir layaknya Harry Potter, hanya luka ringan bergaris merah yang pedih.Bibir atas kiri pun demikian.Sakit.

Payah.Alhamdulillah ada warga yang menolong.Saya tetap ngotot lanjut perjalanan sampai menemukan masjid tak jauh dari tempat saya jatuh.Istirahat sambil menenangkan pikiran.Wudhu perih, sholat pun duduk. Argh...,parah, masih ada 2/3 perjalanan lagi yang harus saya lalui. Tapi badan masih mengerang sakit dengan luka-lukanya. Astaghfirullah....

Selesai Dzuhur, saya istirahat di serambi masjid. Seorang bapa seumuran 40 tahunan memulai pembicaraan: "jatuh dimana dek?", "disana Pak, pas turunan.,ngga jauh dari sini" jawab saya dengan senyum-senyum. Entah ingin menunjukkan sikap ramah, atau malah menahan perih. Akhirnya beliau membawakan perban dan plaster dari mobilnya. "nih dek, Brebes masih jauh, lukanya ditutup ja biar ngga nambah perih. Saya ngga punya Betadine, tapi Ibu yang di bawah katanya punya, coba minta aja kesana." saya hanya bilang terima kasih berulang-ulang tuk kebaikannya.

Nurut kata Bapa tadi, saya minta Betadine ke toko kelontong di bawah.Ibunya masuk, dan keluar membawa botol yang berisi cairan merah. Labelnya 'BET' yang ditulis seadanya tuk pembeda. "ini tuh Betadine khusus buat operasi Dek, cepet ngobatinnya. Ntar lukanya cepet kering, tapi tahan ya perihnya".Si ibu langsung ngolesin obat yang dianggap paling mujarab itu ke luka-luka yang baru saja saya dapat.Benar.Perihnya memang sangat. Sambil beliau cerita tentang beberapa kecelakaan lain yang sampai membawa kematian, juga di daerah itu. Membuat saya tetap bersyukur masih selamat.Sangat bersyukur dan beruntung malah.

Huft...,setelah dirasa cukup dengan obat mujarabnya, saya terpaksa berbuka:hanya meminum segelas air putih saja. Karena memang saya merasa pusing dan mual. Membuat perasaan akan pingsan dan muntah secara bersamaan. Tapi untung tetap saya bertahan.Setelah berterima kasih dan dibalas dengan pesan 'hati-hati'. Sampai akang-akang tukang parkir pun berpesan hal yang sama: "Ati-ati ya mas..". Tentu.Kali ini saya bakal lebih dan lebih berhati-hati.Jawab saya dalam hati.


Hal berikutnya malah lebih parah.Menahan sakit dan perih sambil harus lebih berkonsentrasi ke jalan. Pekerjaan yang sangat berbeda dan susah untuk dilakukan secara bersamaan. Tapi entahlah, ada perasaan lega dalam perjalanan 2/3 ini.Saya tidak usah repot-repot nyari alesan tentang Dialga yang dulu pernah rusak parah.Baca cerita lengkapnya juga ya.Inilah jawaban dari Allah untuk saya.Ya, setelah nyaris satu bulan mencari alasan yang tepat.Dan mereka pun belum tahu tentang kejadian pertama. Dan semoga tidak akan tahu. Karna sambutan di rumah tentu saja dengan kepanikan dan kekhawatiran tentang kondisi saya.Tentu Dialga dinomor duakan.Tertutup oleh kejadian terakhir.


Lagi, akhirnya saya teringat wasiat (kata-kata) Mbah Putri (Nenek) sebelum saya berangkat beberpa bulan yang lalu.Tepat sebelum Dialga belum diperbolehkan dibawa ke Bandung.
"Sing sabar dadi wong.., yen ana sing nyalip y kudu sabar., ning dalan mah wong pada kebut-kebutan edan. Sing sabar bae y Tong..."

"Yang sabar saja jadi orang., kalo ada yang nyalip y tetep harus sabar., di jalan mah orang pada gila kebut-kebutan. Yang sabar saja y Nak..."

Begitulah inti wasiatnya.Sepertinya akhir-akhir ini memang saya sedang bebal.Jujur. Saya sempat emosi dan sebel ketika pulang kemarin dengan salah satu motor yang sepertinya dia juga ingin pulang ke kampung halamannya. Motor Matic.Selalu menghalangi pandangan.Ugal-ugalan (menurut saya).Tidak mau disalip.Bandel.Lambat (relatif). Dan itu sampai setengah jam lebih berlangsung. BT.


Akhirnya karena memang sedang bebal ditambah dengan emosi jalanan.Saya tancap gas agar bisa mendahului si Matic di suatu kesempatan yang langka.Berhasil.Tetap saya ajak Dialga dengan kecepatan naik. Yes. Tertinggal jauh si Matic.Belum puas, tetap saja Dialga saya kendarai dengan kecepatan yang (relatif) tinggi.Sampai akhirnya saya dapat luka ini.Payah.

Well.., ini bebal kesekian kalinya mengacuhkan (atau melupakan) nasihat orang tua. Semoga yang terakhir.Semoga.Karna saya tahu, jatuh itu sakit. Dan proses penyembuhan pun sakit. Bahkan setelahnya mungkin harus sakit (lagi).
Tapi percayalah, setelah sakit itu ada kenyamanan dan nikmat tersendiri yang Allah siapkan.

Percayalah.

Monday, August 22, 2011

Garut, Sukalaksana 02 Part Empat (Habis)


Selesai lomba cerdas cermat, langsung saya dzuhur. Dan membantu teman-teman lain di lapangan bola sepak: game terakhir sebelum penutupan. Parade game campuran: menyusun puzzle, balap kelereng, balap balon, masukkin pensil ke lubang dan terakhir pukul air dalam plastik. Seru, kocak, dan rame. Apalagi yang bagian akhir, sensasi perjuangan tuk memecahkan kantong air terasa sekali. Walau bahaya, tapi asyik. Hahahaha. Seperti rasa bangga keluar tak terkendali say tongkat bertemu dengan kantong air yang menghasilkan bunyi ledakan kecil diiringi cipratan air yang keluar bebas. ‘Aaahhh., lega’ parade game selesai.

Ditengah-tengah waktu permainan tiba-tiba ada anak yang mimisan. Darah mengucur dari kedua lubang hidungnya sampai ke bibir. Pemandangan yang sangat tidak kita harapkan. “Sariawan, sariawan” banyak anak yang menyebutnya karna sariawan. Loh., kok sariawan? Halah, mungkin karna darahnya sampai ke bibir, jadi mereka anggap itu sariawan. Kesalah besar. Orang sunda menyebut mimisan dengan sariawan. Hahaha. Memalukan saya ini. Tapi entah kenapa, perasaan yang sama satu tahun silam kembali merasuki saya: Orang bilang jiwa FMT (Food and Medical Team). Hehehe. Entahlah, reflek sepertinya. Saya bawa si anak yang mimisan (sariawan maksudnya) ke Bapak-bapak yang sedari tadi ikut menonton dari atas dekat lapangan voli.

Parade game selesai. Anak-anak kembali ke ruang kelas tempat cerdas cermat (lagi) tuk penutupan. Karna memang belum ada orang yang stand by di ruang kelas, saya inisiatif tuk kesana. Naik ke atas. Nyaris sampai di atas, Mba Eva manggil: “Dit, sini loe!!”. Buset galak amat. Pikir saya dalam hati. Argh, parah, manggil pas nyaris sampai atas. Capek bung. Kesal sekali rasanya. Astaghfirullah.., saya langsung kembali ke bawah tuk menemui Mba Eva dan lain-lain: Ina, Ridhi dan Habib. Ternyata tuk persiapan penutupan. Saya dapet bagian tuk membaca puisi part dua. “Wow., ngga nyangka”. Dulu memang waktu SD saya sering membaca puisi, hanya juara tingkat SD saja. Nostalgia sekali. OK lah. InsyaAllah siap walaupun sudah hampir delapan tahun tidak menyentuh puisi lagi.

Sebelum penutupan, pemutaran video flashback. Hahaha. Lucu, keren, asyik dan rame. Merasa bagian-bagian itu terasa kembali. Dan entah kenapa, rasa sedih mulai terasa. Berikutnya pembagian hadiah tuk para sang juara. Hadiah seadanya dan sengaja bikin banyak. Karna hampir semua anak dapat. Berikutnya performansi dari masing-masing kelas: ada yang mbaca puisi (walau volumenya hanya terdengar oleh telinga sendir), nyanyi lagu bareng-bareng, yel-yel masing-masing kelas. Maen suling (baca:recorder), dan maen drama. Hahaha, lucu keren dan berani. Entah kenapa, rasa sedih itu muncul lagi. Ngga seharusnya muncul sekarang.

Penutupan dimulai: baca puisi “Cerita tentang Mimpiku” karya Mba Eva. Part satu: Ina yang beraksi. Part dua saya sendiri, part tiga: giliran Habib, dan penutup: RIdhi tuk menarik rangkuman acara tiga hari kami. Kami maju dengan membawa lilin yang menyala. Ina mematikan lilin, dan beraksi. Kata-kata puisi karangan Mba Eva berubah menjadi teriakan dan suara pengahayatan pembacanya. Hikmat. Solemn. Saya beraksi, tak lupa mematikan lilin yang saya pegang. Aksi kesurupan Adit versi SD dimulai. Mengubah barisan tinta kata-kata menjadi suara dan penghayatan gerak dan mimic wajah. Cacat. Banyak yang terlewat dan kaku. Argh., padahal ini momen yang sakral. Mengecewakan. Habib mengambil alih posisi. Lilin pun dia matikan. Mulailah suara lantangnya. Kepalan tangan yang meninju-ninju udara, teriakan semangat dan rintihan penuh harap . Bu Euis luluh, air mata mulai telihat dimatanya. Seluruh bagian puisi selesai diungkapkan. Spectacular. Ridhi menyalakan lilin kami kembali. Mengungkapkan kata-kata tanda maksud dan tujuan kami ke sini. Meneriaki para pecundang yang tak mau bermimpi. Menyemangati para pemberani dalam bermimpi. Khidmat. Sedih. Tangisan meledak. Anak-anak yang paling keras tangisannya. “Kami berbicara dari hati Bu, Pak..” satu kalimat yang saya dengar dari Ridhi. Suasana makin naik dalam kesedihan dan penuh harap. Kami tutup dengan lagu “Laskar Pelangi-Nidji”. Menyanyi bersama, berdendang bersama, menyemangati bersama, dan bedoa bersama. Luluh. Hati saya bergetar, entah kenapa. Mungkin efek sedih, senang dan haru yang bertemu secara bersamaan.

Akhir serangkaian acara kami ditutup dengan salam-salaman bersama. Argh., air mata saya tersendat kaku di ujung mata. Nyaris jatuh. Sedih sekali rasanya. “Barakallahu fik.., Semangat ya Adek..” hanya kalimat itu yang keluar tuk buah kenang-kenangan terakhir nagi mereka dari ku. Tak lupa serangkaian doa yang lain saya panjatkan bagi mereka dalam hati. (semoga Allah mengabulkannya. Amiin). Sampai pada saat terakhir, salaman dengan Bu Euis. Haru. Beginilah akhir acara kami. Rintikan hujan diluar ternyata menemani kami dalam proses penutupan. Barokah kah?? Wallahu a’lam…, dan semoga memang hujan itu tanda keberkahan dari Allah. Amiin y Rabb..

Amiiiiin…….

Kembali beres-beres, dan saya putuskan tuk pulang malam itu juga seblum maghrib. Kami ber-enam akan pulang sore itu. Ka Bowo, Mba Eva, Dias, Ali, Habib dan saya. Packing pun dimulai. Pamitan terakhir ke Bu Euis, Fajri, dan Kang Topik. Terima kasih ku untuk mereka. Melalui beberapa proses dan tahapan, kami ber-enam take off jam setengah enam lewat. Ali dan Dias mengambil rute motor. Kami berempat melewati jalan yang sama ketika kami beragkat kemari. Tapi kali ini dibantu dengan dua warga yang kebetulan akan pulang juga. Mereka dengan baik hati membawakan beberapa bawang bawaan kami (Mba Eva dan Habib tepatnya).

Ngga berapa lama kami jalan, adzan terdengar sayup-sayup. Kami berhenti tuk berbuka: hanya air minum saja. Kemudian lanjut lagi perjalan pulang. Suasana mulai gelap. Habib menyalakan senternya, mencoba tuk memberi bantuan ke mata kami agar bisa melihat jalan lebih jelas.  Berhasil. Kami sampai pada rumah warga yang menganrar kami. Berpamitan dan berterima kasih, kami lanjut lagi. Perjalanan baru setengahnya. Gelap pula. Satu hal yang kami ingin hindari adalah: kabut tebal. Alhamdulillah, kami hanya berpapasan dengan kabut yang tidak terlalu tebal saja, dan hanya sebentar saja. Perjalanan berikutnya berasa lebih agak berat. Tanjakan dalam kegelapan. Bahkan kami tidak bisa melihat wajah teman kami dengan jelas. Hal yang bisa mencirikan hanya suara dan postur tubuh saja. Kami berhenti tiap permintaan Mba Eva terlontarkan. Wajar, beliau cewe satu-satunya dalam rombongan pulang ini. Berbagi air, kurma dan makanan lain yang kami bawa. Akhirnya, sekitar 45 menit perjalan, sampai juga di rumah warga tempat kami menitipkan motor. Kami bertiga sholat maghrib, sementara Mba Eva bertugas tuk masuk dan bertemu pemilik rumah tersebut.

Selesai sholat, kembali ke rumah penitipan motor. Bincang-bincang sebentar, mengisi air minum. Dan kami pulang. Pamitan dan Berterima kasih. Sangat bersahabat sekali mereka. Ramah. Persiapan pulang selesai. Kami harus naik ke atas agar kembali ke jalan raya. Berhubung saya naik motor V-Xion, Ka Bowo turut serta tuk berbonceng agar motor Habib bisa lebih mantap dalam tanjakan yang (sangat) curam sekali ini.

Awalnya motor saya kuat dan mantap dalam tanjakan seperti ini. Sampai suatu saat, saya menggunakan gear (baca:gigi) dua tuk naik. Berhasil, tapi sampai di tikungan dan curaman mungkin lebih dari 600 V-Xion saya tiba-tiba mati mesin. Panik. Motor mulai melaju kea rah yang salah:mundur. Makin panik. Sontak rem langsung saya jalankan. Hanya rem tangan (depan) saja yang berhasil saya jalankan, kedua kaki saya tahan tuk menjaga keseimbangan motor. Ka Bowo nampaknya melakukan hal yang sama. Sampai ke suatu saat kecepatan dan keseimbangan motor tidak saling sinkron. GUBRAK. Motor terjatuh ke kiri. Kaki kiri saya tertindih V-Xion. Kepala sedikit membentur jalan aspal. Ngga bisa bergerak.

“Kalian lagi ngapain??” kata yang saya dengar dari Mba Eva. Parah. Tentu saja kami terjatuh. Pertanyaan yang aneh. Ngga peka. Hehehe. Berikutnya Ka Bowo mengangkat motor. Kaki kiri terbebas dari beban V-Xion. Warga datang membantu. Tapi entah kenapa kepala saya pusing. Susah bangun. Linglung. Dibantu bangun sama warga akhirnya. Dan saya diantar sampai naik ke atas: jalan besar oleh warga tersebut. Terima kasih Pak.,jasamu tidak akan saya lupakan. Sesampainya di atas, saya check keadaan tubuh. Luka di sikut kiri dan pergelangan kaki kanan. Perih. Payah sekali. Pamitan dan ucapan terima kasih tuk Bapa yang mengantar saya. Kami lanjut perjalanan. Ali dan dias sudah bergabung. Off we go.

Sepi, gelap dan berkabut perjalanan pulang kami. Rasa sakit di luka yang baru saya dapat mulai terasa. Terkena angin. Tapi tak berapa lama, rasa sakit itu terlupakan oleh suasana perjalanan yang harus mendapat konsentrasi lebih: dingin, waspada, lapar dan siaga. Tikungan-tikungan mulai menyambut, kabut mulai terlihat di samping kanan dan terakadang menghadang di depan. Kecepatan diatur sedemikian rupa agar tak tertinggal dan tetap bersama. Menit berikutnya saya hanya konsentrasi dalam lampu kuning yang menyala berkelip-kelip (baca:lampu sign) yang menandakan tikungan ke kanan atau kiri. Rasa sakit terlupakan. Lupa total.

Sampai ke pemberhentian pertama: Pom Bensin di Pengalengan. Isi bensin, isi perut sedikit dan air minum, sedikit berbincang-bincang. Kami lanjutkan perjalanan. Yang saya ingat adalah: saya mengejar motor di depan saya: Mba Eva agar tidak tertinggal. Menit-menit berikutnya, Motor dibelakang saya yang tertinggal: Habib dan Ka Bowo. Night Rider lebih tepat tuk sebutan kami. Ngebut di jalanan pegunungan. Tikungan-tikungan yang menyambut serasa tak berarti lagi buat saya. Tujuannya: mengejar dan menyusuk motor di depan agar bisa tetap bersama sampai daerah kampus.

Singkat cerita, hanya saya, Mba Eva dan Ali (dengan Dias) yang berhasil bersama sampai daerah kampus. Saya pamitan pertama karna memang rutenya melewati kost saya. “Mba., saya duluan ya.. Salam’alaikun..” Parkir motor di kostan, buka kamar, rasa sakit luka barusan terasa lagi. Jam 8.30p.m. Argh., Isya dan tarawih yang utama. Selesai tarawih., badan langsung minta disegerakan tuk istirahat. Setalah beres-beres dan masukkin motor ke dalam, tidur jam 9.30 p.m.

Kenangan Sukalaksana 2 ditutup dengan sebuah goresan luka yang sampai sekarang pun masih terasa perihnya. Menandakan kenangan kebahagiaan dan serunya petualangan saya dan teman-teman PUDING masih membekas rapi dalam memori dan hati.

SUKALAKSANA 2… KAU TERTAKLUKKAN…

Alhamdulillah……

Keesokannya, saya baru ingat: saya seharian ngga mandi. Hahaha. Memalukan. o_0???
 
Copyright (c) 2010 Bermula dari Awal and Powered by Blogger.