Saturday, September 22, 2012
"The Script - Breakeven" Max Schenider
Wednesday, September 12, 2012
Masalah?
“Seorang pemimpin nggak cuman mbutuhin otak kiri aja Dit..”
Petuah yang masih ingat sampai hari ini ketika saya coba membuka diri untuk mengevaluasi diri pada orang yang saya anggap ‘sepuh’ dan mau jadi tempat buangan beban dan muntahan emosi.
Sudah kodrat alami manusia kali yah., kalau sadar itu emang butuh stimulus dari eksternal diri kita sendiri. Orang tua misalnya, teman, dosen, atau bahkan ustad atau Ibu kost. ~(-.-)~
Jujur, baru pertama kali ini saya cerita dan meluapkan hampir masalah lab saya kepada orang lain. Sebelum-sebelumnya, dengan memasang senyum sinis dan agak malu-malu, saya jawab sekenanya: “Insya Allah nggak ada” di setiap orang yang nanya. Tapi entah, hari itu tiba-tiba saya malah minta waktu buat sesi yang langka ini: curhat. Aaaaaah., bahkan Allah punya gaya bercanda sendiri buat saya di hidup yang singkat ini. hehehe.
“Kenyataan itu ibarat petir, cahayanya bisa membutakan, suaranya bisa membuat tuli, dan efeknya bisa membuat ketakutan setengah mati” (*)
Kenyataan bahwa saya masih banyaaaak kekurangan itulah yang terkadang membuat saya buta untuk berani melihat dan tahu kalau “Lo tuh sebenernya masih kaku..” Atau terkadang tuli dan nggak mau denger kalo “Lo tuh sebenernya masih cacat..” Yaaah, sekali lagi, Allah emang punya gaya selera humorNya sendiri. Dalam kondisi yang terbawah ini (setelah di evaluasi), justru saya harus jadi panutan dan contoh –yang notabenenya harus di kondisi yang paling TOP- Nah lo..
Saya memang bukan tipe orang yang suka cerita panjang lebar, tapi lebih suka mendengar cerita orang lain. Itu saja.
Monday, August 20, 2012
Merdeka lalu Menang
Logo HUT RI ke-67 (Sumber dari kaskus)
Hari kemerdekaan RI ke-67 tahun ini mempunyai timing yang sangat tepat dan indah. Karena ‘kondisi’ tanggal 17 Agustus 2012 dengan ‘kondisi’ 17 Agustus 1945 mirip, sama. Sama-sama ada di bulan Ramadhan, sama-sama hari Jum’at. Mungkin ini koinsiden yang jarang terjadi, dan kita yang pernah merasakan koinsiden ini, seharusnya memiliki momentum dan feeling yang lebih serta patut bersyukur akan hal itu.
Proklamasi yang ibarat petir di siang bolong ini (kata Bung Karno –red) seharusnya benar-benar menjadi petir di siang bolong: Mengguncangkan, menarik perhatian, dan efeknya (bunyi) luas. Karena sudah lama kita di-nina bobokan oleh semua kekayaan alam yang kita miliki. Sehingga kita lupa, waktu demi waktu kekayaan itu juga yang menggerusi kesejahteraan kita. Kita terlalu lama ditimang-timang oleh egoisme individual kita yang lama-kelamaan melubangi uang negara ratusan atau bahkan ribuan milyar Rupiah. Dan kita terlalu nikmat untuk terus diayun-ayun dengan statement yang menjatuhkan saudara kita sendiri. Bukan malah mendukung dan meng-encourage agar bangkit dan bisa mengangkat nama negeri.
Petir di siang bolong, tak hanya untuk menggugah dari lamunan dan ‘berpangku tangan’. Lebih dari itu. Siapapun Anda, bangun dan bangkitlah untuk bekerja kepada negara sesuai potensi yang Anda punya. Begitu mungkin maksud dari Bung Karno.
Lalu kata merdeka yang kita teriakan bagaimana?
Entahlah, selama kita sendiri hanya memaknai kata merdeka di lisan saja, arti dan makna merdeka yang sesungguhnya pun mungkin akan jauh dari kehidupan kita.
Tapi percayalah, terkadang dalam generalisasi masih ada bagian spesifiknya walaupun hanya bagian kecil. Jadi walaupun banyak pemberitaan negatif yang beredar, pasti masih ada berita positif yang berkembang. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, mau ikut mengembangkannya, atau justru malah menutup-nutupinya dan berusaha menenggelamkannya.
Kita punya mimpi dan visi yang sama untuk negara Indonesia tercinta kita bung..
Mari kita kerja sama dan saling membantu untuk mewujudkannya..
Dua hari berselang
Berselang dua hari, kemerdekaan berubah kata menjadi kemenangan. Yang pasti, kemenangan akan berarti kalau memang kita melibatkan emosi dan effort di dalamnya. Kita akan sangat senang sekali dan bahkan merasakan euforia kemenangan juga ketika tim unggulan yang kita idolakan menang juara championship kan?. Padahal kita nggak ikut bermain dan berjuang, tapi perasaan itu kita rasakan juga.
Sama seperti kemenangan yang kita rasakan saat Lebaran. Yang benar-benar merasakan kemenangan, pastilah hanya orang-orang yang mempunyai effort dan emosi selama Ramadhan kemarin. Kalau nggak, Lebaran hanya akan menjadi tradisi tahunan biasa yang tahun depan pun pasti akan ada lagi (jika cukup usia).
Jujur, tahun ini arti kemenangan itu nggak dapat saya rasakan penuh. Saya masih kalah. Dan saya masih berharap hari ini masih Ramadhan. Saya pun nggak punya jaminan bahwa saya masih bisa bertemu lagi di Ramadhan tahun depan. Saya juga masih nggak punya jaminan kalau pun saya ketemu lagi dengan Ramadhan tahun depan, apa saya masih bisa beribadah total dan terus menjaga (bahkan meningkatkan) targetan-targetan di bulan Ramadhan. Yah, tapi semua ada waktunya, agar manis dan nikmatnya kemenangan dapat kita rasakan bukan?
Teringat kebanyakan ending film-film yang pernah saya tonton. Bahwa Happy Ending biasanya saat matahari terbit atau waktu Fajar. Ber-background cahaya matahari pagi, dengan senyum merekah di semua aktor dan aktrisnya, wajah yang lega bahwa musuh telah dikalahkan, muka-muka penuh kerja keras dan jerih payah serta usaha keras, wajah berharap bahwa musuh nggak lagi muncul dan kembali hidup, modal telah banyak dikeluarkan, serta mimpi dan masa depan yang menanti dengan cerah dengan mimpi dan angan yang mereka gantungkan. Truly happy ending scene.
Tak terasa, kita pun merasakan happy ending saat Lebaran kemarin, saat sholat Ied. Tepat ketika matahari terbit, dengan background cahaya matahari terbbit (fajar), wajah sumringah yang kita pasang, wajah jerih payah dan usaha maksimal sebulan silam saat puasa, dan mimpi dan harapan yang kita gantungkan agar 11 bulan kedepan lebih baik lagi. Subhanallah… Truly happy ending bagi yang merasakannya…
Itulah mengapa Allah menyuruh sholat Ied di lapangan atau tanah terbuka yang beratapkan langit langsung. Dan waktunya adalah saat matahari terbit. Uwaaaaah., bener-bener nikmat dan bahagia (sekaligus sedih)…
“Berhasil meraih kemenangan berarti kita siap menerima semua konsekuensi setelah gelar itu disematkan”
#Saat Hari Kedua Lebaran
Selamat Idul Fitri 1433 H
Semoga amal ibadah kita selama Ramadhan kemarin diterima Allah SWT, dan kita bisa benar-benar meraih kemenangan dan happy ending di 1 Syawal ini.
Aamiin y Rabb…
Maaf atas segala kekurangan dan opini serta cerita yang masih banyak kesalahan
Saturday, August 04, 2012
Bertahap saja, tak usah buru-buru
Waktu itu kami sedang mengobrol santai di lab. Mungkin nggak bisa dibilang obrolan santai juga sih, soalnya topiknya lumayan berat: paradigma agama. Hehe. Topik yang cukup menarik untuk sekedar di-floor kan di sebuah forum. Setidaknya itu semua menambah pemahaman yang berbeda dari sudut yang beda pula dalam melihat Islam.
Setelah kami putuskan selesai, a friend of mine asked me.
“Eh dit, boleh curhat nggak? Tapi aku rada malu nih ngomonginnya.”
Wow, ini kali ke berapa seorang teman curhat. (padahal nggak lebih dari lima orang). “Mmm.,ya sok ja..insyaAllah tak bantu sebisa aku ya..” *sambil senyum-senyum*
Well, inti masalah teman saya adalah dia ingin berubah dari salah satu sifatnya yang menurutnya nggak baik. Dan lagi, pertanyaan yang menohok. ‘Pantas nggak ya ngejawab? Diri sendiri pun masih banyak sifat dan targetan yang berlubang’. Tapi tak apalah, tak ada salahnya untuk memberi nasihat, toh nanti nasihat itu pun akan memberikan lecutan pada saya pribadi untuk melakukannya juga.
“Dulu, pas kuliah di kelas Pa Kore, beliau pernah cerita tentang mahasiswanya yang pengen berubah juga. Beliau cerita kalo mahasiswanya itu minta nasehat biar TA-nya lancar. Jadilah Pa Kore mengintrogasi si mahasiswa. Ternyata si mahasiswa itu selalu tidur lebih dari jam 12 malem. Jam 1 atau jam 2 malem. Bangunnya pun sering kesiangan.
“Coba kurangi maen kamu dek, terus tidur usahakan sebelum jam 12 malem. Itu dulu. Kalo itu udah bisa, baru kamu ngadep kesini lagi. Kurangin jam tidurnya jangan langsung jam 10. Bertahap aja, ntar malem jam setengah 2, malemnya lagi jam 1, atau terserah lah yang penting bertahap. Kalo udah berhasil, baru kamu kesini lagi.”
Begitulah jawaban saya untuk curhat teman saya yang satu ini. Hanya repost dari petuah seorang dosen. Tidak puas? Baguslah, jangan sampai puas dengan satu jawaban. Apalagi kalo jawaban itu dari saya. Hehehe
Dan ketika itu pun, kebetulan saya sedang mengurangi ketergantungan saya dengan sosial media. Dan saya mempraktekan yang Pa Kore ceritakan. Bukan untuk tidur sebelum jam 12 malam (walaupun emang itu salah satunya), tapi secara bertahap mengurangi waktu bersosial media. Dan secara tak sadar, itu berhasil. Sampai sekarang, sehari hanya 30 menit saja. cukup.
Karena itu memang sifat alami manusia untuk menerima secara bertahap, tidak sekaligus. Sama seperti bagaimana Al-Qur’an diwahyukan ke Rasul Allah. Sama seperti sistem pendidikan yang kita pakai: dari TK, SD, SMP, SMA, dst. Bahkan sama seperti sistem kerja hampir semua benda dalam bergerak: dari lambat menuju cepat secara bertahap. Jadi pantas aja kalau ada yang bilang bahwa ‘yang instan’ itu nggak baik. Ya, karena itu menyalahi aturan alam. Bukankah yang alami lebih baik?
Dan saya berharap di Ramadhan ini pun kita semua demikian. Tak usah buru-buru dalam mengerjar targetan Ramadhan tahun ini. Bukankah banyak da’I dan da’iah yang bialng kalau Ramadhan=Training? Jadi manfaatin ja bulan Ramadhan ini dengan latihan. Bertahap aja. Mana yang pengen dilatih, latihalah.. biar bisa meningkat amalnya.
Lagipula, kalau kita maksain, hasilnya ya sama aja: Cuman baik di bulan Ramadhan doang. Setelahnya entah bagaimana kabar baiknya berubah. Setelah ambisi ngerampungin targetan selesai, ya sudah, cenderung malas dan susah berbenah diri lagi menyambung targetan baru.
Kita nggak mau kan kalo Ramadhan jadi tradisi untuk bersolek aja? Setelah itu nggak ada bekas yang masih terasa. Semua sama aja ketika sebelum dan setelah Ramadhan. Masa kita mau rugi di pasar yang untungnya super duper gedhe? Hanya orang yang bodoh dan malas saja yang mau rugi di pasar yang semuanya menyajikan keuntungan super besar. Bahkan lebih besar dari yang kita bayangkan.
Yuk sama-sama nikmatin proses latihannya, nggak usah buru-buru… ^^
#Semoga Ramadhan tahun ini berkah dan amal kita diterima.
N.B
Terima kasih untuk teman saya yang sudah memberi inspirasi dalam cerita ini. Maaf kalau saya bawa-bawa kemari. hehehe
Monday, July 23, 2012
Kenapa harus sejarah
Bagi saya seorang engineer, kata ‘sejarah’ mungkin hampir tak ada dalam kamus saya. Tapi ada hal lain yang membuat saya tertarik lebih kepada topik itu. Saya (notabene seorang engineer) mengatakan ‘praktis’, tapi bagi mereka (sejarawan) mengatakan ‘detail’. Saya bicara ‘aplikatif’, mereka bicara ‘runut’.
Percabangan pola pikir ini pun sudah dimulai dari SMA dengan mengkodekan ilmu sosial dengan ilmu eksak. Dulu pernah saya benci mata kuliah ini. Jujur, saya waktu itu memilih pelajaran eksak, yang dalam benak saya pasti sudah tak ada lagi ilmu pelajaran sosial yang akan menjadi ‘beban’ di prosesi kemudian hari. Namun, tetap saja mata pelajaran sejarah masuk itungan dan tetap harus saya pelajari.
Dan baru kali ini saya sadar, bahwa saya bersyukur bahwa ide mata pelajaran sejarah masuk dalam ilmu eksak merupakan keputusan yang sangat brilliant. Yah, walaupun agak sedikit membosankan nantinya. Hehehe.
Memang, sejarah bukan eksak. Tapi bukankah setiap orang di dunia ini ingin mengabadikan momen-momen indah (atau tidak indah) dalam hidupnya? Bukankah mereka ingin ‘membuat’ sejarah juga? Semua peristiwa yang terjadi di masa lalu merupakan sejarah bagi pribadi yang merasakannya kan?
Sejarah tak melulu tentang perang, fosil atau cerita kerajaan. Lebih dari itu. Bahkan lebih lagi dari pada yang kita bayangkan. Pernah dengar cerita tentang seorang pengelana dan bangunan batu bata? *cerita ini saya dengar pertama kali di oleh Ketua LDK tahun 2010 lalu*
Suatu hari, ada seorang pengelana yang sedang melanjutkan perjalanannya. Ditengah perjalanan, Dia bertemu dengan orang pertama yang sedang mengerjakan sesuatu.
Pengelana: “Apa yang sedang kamu lakukan?”
Orang 1: “Saya sedang menyusun batu bata”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Sang pengelana tersebut melanjutkan lagi perjalanannya. Selang beberapa saat, dia bertemu orang kedua yang nampak mengerjakan sesuatu.
Pengelana: “Apa yang sedang kamu lakukan?”
Orang 2: “Saya sedang membangun rumah”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Sang pengelana tersebut melanjutkan lagi perjalanannya. Selang beberapa saat, dia bertemu orang ketiga yang nampak mengerjakan sesuatu.
Pengelana: “Apa yang sedang kamu lakukan?”
Orang 2: “Saya sedang membangun peradaban”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Sang pengelana tersebut melanjutkan lagi perjalanannya.
Dari ketiga orang yang ditemui Sang pengelana, mereka semua sedang membuat sebuah bangunan dari batu bata. Tapi ada satu bangunan dari ketiga itu yang nantinya akan berdiri kokoh dan kuat. Tebak bangunan milik siapa? ^^ bangunan milik orang ke-3. Karena dia memiliki visi dan tujuan lebih besar dan agung untuk membuat sejarah (membangun peradaban).
“Sejarah adalah alat untuk mencari kebenaran, pembenaran atau pembelajaran”
Melalui sejarah, kita mengetahui suatu kebenaran: Ya, jika kita telusuri lagi secara kronologis, kita hidup adalah suatu kebenaran. Kejayaan Sriwijaya adalah kebenaran. Kekalahan NAZI adalah kebenaran. Reformasi Indonesia adalah kebenaran. Dan masih banyak lagi kebenaran-kebenaran lain. Yang seharusnya kita sadari: bahwa itu semua sudah terjadi, dan langkah serta pertanyaan berikutnya yang muncul adalah: “Maukah kejadian (sejarah) itu terulang kembali?”
Pembenaran bahwa kita mungkin jatuh ke lubang yang sama, pembenaran bahwa mungkin kita terjebak dalam situasi yang sama lagi untuk ke-sekian kalinya. Atau itu memang pembenaran bahwa kita berjaya kembali seperti dulu kala. Sejarah kita yang akan menunjukkan pembenaran itu.
Pembelajaran yang akan sangat berkesan adalah ketika kita melibatkan emosi, serta kita ikut terlibat di dalamnya. Melalui sejarah (kita), kesalahan dan kejadian yang dulu pernah terulang akan memberikan efek yang besar terhadap pola pikir dan pergerakan kita nantinya ketika bertemu lagi dengan situasi yang sama. Belajar dari pengalaman merupakan ilmu dasar yang akan bertahan lebih lama dari sekedar kita mendengarkan sambil asyik sms-an.
“Gajah mati tinggal gading, harimau mati tinggal belang, manusia mati tinggal nama”
Pepatah lama yang pengaruhnya hampir ke semua orang di dunia. Kenapa orang mau bersusah payah melakukan percobaan sampai ribuan kali dan tetap semangat melakukannya lagi dan lagi: Karena dia ingin membuat sejarah. Seperti Thomas Alpha Edison. Kenapa orang mau mengeluarkan banyak uang (dan mungkin mengumbar janji) untuk menjadi nomor satu dan dapat kursi: Karena meraka ingin membuat sejarah juga. Kenapa orang mau berpanas-panasan dan berteriak-teriak bahkan menggadaikan nyawa hanya untuk menurunkan kepemimpinan seorang diktator: Karena mereka ingin membuat sejarah. Kenapa orang ingin mengangkat senjata dan mengalahkan lawan dengan cara yang brutal sekalipun hanya untuk mendapat kekuasaan akan wilayah: Karena mereka ingin membuat sejarah.
Mereka ingin nama meraka di kenang oleh semua orang di dunia. Bahkan ketika nyawa dan badan sudah berpisah. Taroh lah ‘Albert Einstein’. Siapa yang nggak kenal beliau? Walapun sudah lama meninggal, tapi hampir semua orang yang tak pernah sekali pun berjumpa dengannya, bertemu dengan sanak keluarga atau teman-temannya, atau bahkan tak benar-benar tahu siapa sebenarnya dia pun akan tahu bahwa dia yang menemukan ‘Teori relativitasnya’. Bisa dibayangkan berapa pahala *dalam hitungan Islam* jika karyanya berguna untuk masyarakat luas dan tetap terkenang sepanjang masa? sebuah aset yang tak ternilai harganya bukan?
Begitulah sejarah, sesuatu yang dulu saya benci, sekarang berubah menjadi sesuatu yang saya impikan. Karna sejarah, bukan sekedar perang dan fosil saja. Lebih dari itu. Sangat lebih….
#Saat Hari Anak Nasional