Friday, September 13, 2013

Menuju Minor

Mimpi saya berhasil terwujud. Mimpi yang mana? Ah, saya terlalu banyak mimpi ternyata. Mimpi menjadi seorang minor. Minoritas di suatu lingkungan. Aneh kan? Entah kepikiran darimana bisa sampai punya mimpi kayak gitu, jangan ditanya.

Pastinya,mimpi itu ya mungkin (sudah) terwujud sebelumnya. Mungkin. But heey, it's coming true. It was real...

Saya jadi minoritas Muslim di Bali. Diapit para pemeluk taat ajaran Hindu. Walau tak lebih dari sepekan disana, tapi minoritas itu memahamkan dan menyadarkan saya satu dua hal.

Saya bisa merasakan cinta dan rindu akan sholat berjamaah di masjid. Sungguh sangat nikmat dan indah rasanya ketika kita berjumpa dengan saudara kita yang seiman. Memakai baju muslim di tengah-tengah pakaian adat Bali. Aaah.,rasanya ingin sekali bertukar pandang dan bertukar cerita tentang kehidupan mereka.

Rasa rindu akan nikmatnya beribadah, kemudahan-kemudahan untuk beribadah, dan tetap menjaga kesucian diri merupakan cerita berikutnya. Gimana rasanya ketika kewajiban dan kebutuhan kita nggak dipenuhi saat kewajiban itu harus segera terpenuhi saat itu juga. Aaah, begitu rasanya was-was dan tak enak saat hal pokok belum terbayar. Dan begitu rasanya lega saat hal pokok itu sudah terbayar.

Suatu hari, akan ada hari, pekan, bulan atau tahun dimana saya merasakan minoritas lagi: menjadi minoritas Muslim. Melangkah dari zona aman dan menjadi agen Muslim yang senantiasa menyebarkan nilai-nilai Islam.
.....

Fariz Dwi Pratama namanya. Dia yang pertama kali berkicau (atau lebih tepatnya mengeluh) akan liburan sepuasnya terlebih dulu ketika beban Tugas Akhir terpenuhi dan mendapat gelar Sarjana. Tak mau dia beranjak ke beban berikutnya: Mencari Kerja. Itu pun yang ada di pikiran saya waktu itu. Menikmati pasca-TA dengan membuang penat, dan melepas rutinitas agaknya menjadi daya tarik tersendiri untuk segera dipenuhi. Tentu, saya meng-amini kicauannya. Hahaha

Saat itu, ada kami bertiga. A.A Kompyang Giri Sutha orang ketiga di ruangan itu. Panggil saja Kompe. Tak perlu ditanyakan apa yang kami lakukan, saat itu jelas obrolan TA jadi trending topic di lab bagi mahasiswa angkatan kita. Ah ya..saat itu kami masih mahasiswa. Dan, Kompe menimpali dengan membuka opini: “Liburan ke Bali, bertandang ke rumahnya.”

Why not?

.....

Yasir Chairuman Tasa. Orang yang kami ajak, bernasib sama: tak mau ambil beban terlebih dahulu setelah melepas beban TA. Sore itu, sembari menunggu berbuka puasa dia mengajak kami bertiga membuat planning liburan. Jika yang disebut planning adalah bagaimana keluar dari pulau Jawa dan kembali lagi ke pulau Jawa setelah beberapa hari. Karena beberapa hari yang bukan di pulau Jawa sama sekali tidak kami rencanakan. Hah, mungkin ‘tak terencana’ adalah bagian dari rencana kami waktu itu. Haha. Rencana selesai, kami jual pada teman-teman yang lain: tertarik? Mau berlibur bersama? Karena butuh komitmen dan secuil sentakan yang pasti beresiko, pada akhirnya, hanya ada dua orang yang berlibur bersama kami: Yudha Ryandieka dan Lerry B. Nugraha.

....

Jogjakarta, 20 Agustus 2013
Kami tetapkan Kota Pelajar itu sebagai tempat berkumpul. Fariz yang pertama kali sampai disana, siang hari dia sampai. Saya dan Yasir baru menyusulnya malam kemudian. Karena kereta baru akan berangkat esok hari, kami bertiga harus sudi bermalam di Jogja agar tak tertinggal. Kami berdua bermalam di rumah Arief Hidayatullah, teman kami yang kebetulan sedang di rumah. Sedangkan Fariz, dia bermalam di kosan temannya.

Dua orang berikutnya datang keesokan harinya: Yudha dan Lerry. Bertolak dari Bandung dan sampai di Jogja subuh-subuh. Lengkap sudah kami berlima.

Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta, Selasa 21 Agustus 2013 awal keberangkatan kami menggali cerita di pulau Bali. Perjalanan kami berlima bermula dari sini.

Saya lirik jam. 7:58a kereta mulai bergerak.

Di depan Kereta Sri Tanjung, Stasiun Lempuyangan Jogjakarta
Yasir, Fariz, Adit

Yudha, Lerry

#Saat pulang dari Jogja menuju rumah.

Thursday, September 12, 2013

Pra Keberangkatan


Selasa, 20 Agustus 2013
Suasana pagi di Rumah nggak kaya biasanya. Semua sibuk akan berangkat. Ibu jelas, beliau bergegas menunaikan tugas mulianya: nyiapin sarapan, dan lanjut mengajar nanti. Abang: bergegas mau nganter Ade ke stasiun. Pun dia juga bergegas akan ke Semarang, psikotest sambung wawancara kerja. Ade: bergegas ke Bogor. Ngupgrade diri, menunaikan amanah kuliah di kampus impiannya sekaligus menapaki mimpinya. Saya sendiri: bergegas mau ke Semarang. Tujuannya? Paling nyeleneh sendiri. Main. Pfft.

Dengan packing seadanya. Berangkat terburu-buru. Uang? Belum ambil di ATM. Bekal makanan? Apalagi, nggak sama sekali. Cuman restu dan cium tangan Ibu aja yang nggak ketinggalan.

Sengaja saya berangkat pagi untuk mengejar kereta ke Semarang. Jam 9.15a jadwal berangkatnya. Perjalanan rumah stasiun sekitar 1,5 jam. Hey, sekarang jam 7.30a dari rumah. Kekejar kah? Pun dengan kondisi belum ada tiket. Pfft.
Dan lihatlah...masih sempet saya naik kereta. 8.56a purchased a ticket. Sung naik. Dan kereta berangkat jam 9.15a menuju Semarang Poncol.

Pagi itu, rumah langsung sepi. Seketika....
Padahal kemarin masih ada obrolan serius antara anak orang tua. Masih ada candaan khas Ibu. Masih ada 'ngomel-ngomelan' khas Ibu.

Dan, cerita bab baru pun dimulai. Berlibur ke pulau minoritas muslim di negara mayoritas muslim: Bali.

Hari sebelumnya. Senin,19 Agustus 2013
Hari ini berbeda. Tentu. It's Monday. Pagi-pagi, seperti biasa, kami beraktivitas pagi. Bedanya, Si Ibu siap-siap berangkat mengajar. Ya.,hari ini tahun ajaran baru dimulai. Tahun ajaran 2013/14. Libur panjang lebaran selesai. Ayo Sekolah..

.....

Si Ade packing. Besok berangkat ke Bogor dia. Karena itu, saya pun ikutan packing untuk acara liburan saya lusa. Biar si Ade ada temennya. Si Ade beli perlengkapan-perlengkapan, pun saya ikuti dengan hal yang sama. Packing ada temennya ternyata asik juga, ngerasa nggak bakalan pergi sendirian. Haha

....

Bulik datang, ngajakin bikin SIM besok di Brebes. Ini udah wacana lama sih, jadi hari ini Bulik tinggal mastiin aja. Karena ini udah perintah dari Si Ibu, yasudah saya mah ikut aja suruh bikin SIM. Pan malah enak ada temennya.

.....

Siang hari, petugas Telkom datang. Langsung naik DP depan rumah. Hampir sebulan telepon rumah kami nggak berfungsi. Nggak ada idle tone. Ternyata, kabel dari MSAN ke DP daerah saya yg bermasalah. Satu DP mati semua telepon dan internetnya. Kata Bapak-bapak lapangannya sih sudah minta ajuin buat diganti, tapi nyatanya sampe sekarang belum. Karena rumah kami yangg aktif komplain, dan kebetulan sudah (lumayan) kenal sama bapak-bapak lapangannya. Jadilah line telepon kami dipindah pake punya orang. Artinya, orang itu yang gantian nggak dapet idle tone. :) Ini gara-gara anaknya belajar di Telkom, Si Ibu nyuruh saya nemenin bapak-bapak lapanganya. Besok katanya mereka mau kesini lagi. OK, nanti saya temenin lagi.
Koneksi datang, kami pun senang. Kami bertiga: Abang Ade, berebut (sebenernya ga rebutan sih, udah gedhe rebutan mulu) gantian make. Berseluncur, mengunduh dan mengunggah. Aaah..internet, kau begitu kami rindukan seperti halnya kami rindu bertemu Ramadhan lagi. (tapi sepertinya harus lebih rindu ketemu Ramadhan)

PC tetap on sampai malam menjelang tidur, menemani Si Ade yang sibuk packing. Saya mah udah selese (setidaknya untuk hari ini), sekarang lagi sibuk mengunduh. Haha

"...Lih, disana gaul sama orang yang bener. Jangan yang begajulan..." saya denger Si Ibu lagi ngomong serius sama Si Ade. Saya diem dengerin aja, sambil sesekali nimpalin pake ketawa. Haha. Abisnya lucu, Si  Ade diajakin ngomong serius malah becanda., Si Ibu juga jadinya malah tanya yang aneh-aneh..haha. Ya.,walaupun sambil rada ngomel-ngomel, gara-gara nggak serius. Khas ngomel Ibu, Ibu yang punya anak cowo. Tiga lagi. Percayalah, saya pun pernah diobrolin hal yang sama.. Bedanya, saya jadi pendengar setia :)

"Telinga Ibu agak sakit, besok mau ke THT lah" Si Ibu ngobrol saat saya lagi nemenin Si Ade packing di ruang tengah.

PC off, semua ke kamar masing-masing: bersiap tidur.

Sesaat sebelum mata dipejamkan, saya inget sesuatu. Hal yang krusial. Sangat.

"Ya Allah, besok saya berangkat ke Semarang, bukan lusa"
Bego. Bisa lupa seharusnya berangkat besok.
Liat jam. Jam 11p. Percuma ngelanjut packing. Sekarang butuh istirahat buat besok.
Nggak harus saya ceritain gimana janji dan acara untuk besok. Kalian sudah tahu itu.

Ah ya., Allah punya kejutan-Nya sendiri sebagai hadiah untuk hamba-hambaNya... kejutan yang membuat hamba-hambaNya akan kembali bersimpuh malu, sujud syukur, nangis sesenggukan atau malah berlari menjauh..

Dan malam itu, saya memilih bersimpuh malu dan sujud syukur untuk awal liburan ini...

#Ditulis diatas kereta Sri Tanjung menuju Stasiun akhir Banyuwangi Baru

Tuesday, July 23, 2013

Dua Tahun Berlalu


Teringat dua tahun silam, ketika saya mudik dengan Dialga (nama motor saya ni, bukan nama Pokemon. Hehe). Ternyata perjalanan nggak selancar yang saya doakan. Dua jam setelah keberangkatan saya dari Bandung, di sebuah jalanan turun menikung ke kiri, tiba-tiba setang oleng, horizontal berputar, dan detik berikutnya badan terasa lebih berat. Dialga menindih badan bagian bawah, tangan masih setia memegang setang, dan kepala diatas tanah, percis seperti orang tertidur dengan posisi miring ke samping. Disini cerita lengkapnya.

Dua tahun sudah berlalu. Kenangan pengalaman itu ternyata tetap saja menyimpan rahasia Allah yang beberapa hari ini akhirnya saya mengerti. Skenario hidup yang sudah Allah rencanakan untuk dirasakan manisnya di kemudian hari. Alhamdulillah

Pertama, jatuhnya Dialga itu ternyata jadi alibi yang sangat kuat untuk menutupi keburukan orang lain. Well, sebelumnya Dialga pernah jatuh dengan kondisi lebih parah oleh orang lain. Dan jujur, orang rumah nggak ada yang tahu. Niatnya biar mereka tahu sendiri ketika lihat Dialga pas nyampe di rumah. Sudah siap mental dan jawaban seperlunya pas di interogasi nanti. Eh.,tapi Allah berkehendak lain..

Berikutnya, mungkin itu cuman kecelakaan biasa bagi kebanyakan orang. Tapi setelah dipikir-pikir. TKP nya itu agak menarik untuk diperdalam. Ketika kemudian saya sembuh dan bolak-balik lagi melewati TKP, ternyata tempatnya memang unik.  ±100m Sebelum TKP kanan kiri jalan tak berpenduduk, hanya sawah dan semak. Baru muncul satu warung (rumah kecil) di kiri jalan tepat di dekat TKP. Subhanallah sekali. Allah merencanakan agar jatuhnya di dekat penduduk, supaya ada pertolongan. Kalau nggak, entahlah apa jadinya...

Dan ketika saya memutuskan melanjutkan perjalanan dengan 'luka', dan rehat di Masjid terdekat untuk sholat dzuhur, ternyata Allah ngasih skenario lagi. Saya dipertemukan oleh Bapa paruh baya, beliau ngerasa simpati lihat kondisi saya yang penuh luka. Beliau ngasih pertolongan pertama dari mobilnya. Sudi untuk membelikan plaster dan memberikannya secara cuma-cuma pula. Melalui beliau juga, saya dipertemukan oleh Ibu-Ibu yang punya obat super mujarab dari negeri asing (katanya). Hahaha. Katanya bisa nyembuhin luka dengan cepat. Hmmm, kebetulan rumahnya adalah toko di kompleks masjid. Dengan sukarela, Ibu itu mengolesi semua luka yang saya punya. Perihnya bukan main, tapi tak apalah, beliau bilang itu tandanya obat yang bagus. Tak lupa, beliau pun menyuguhkan segelas air putih (ini suruh batalin puasa). Terakhir, luka ditutup kain kassa dengan bantuan Sang Ibu.
Coba kalo nggak dikasih disinfektan, bisa makin parah lukanya, dan entah bagaimana kelanjutannya...

Kebetulan?
Bahkan ketika sampai di rumah (tentu dengan waktu yang lebih-lebih lama dari yang biasanya). Dan langsung ke dokter terdekat diantar Ayah. Kau tahu, waktunya sangat mepet dan pas, 6 jam batas toleransi suatu luka harus dibawa ke dokter (Dokternya sendiri yang bilang). Biasanya lebih dari itu, bisa infeksi yang berujung amputasi (misalnya) atau suatu catat. Fiuuuuuh.., coba kalo telat sampai rumah, entah gimana kabar berikutnya..

Mungkin sekarang masih kebetulan, tapi suatu hari nanti, kebetulan itu akan berubah jadi skenario Allah yang terindah yang Allah siapkan untuk dikecup manisnya belakangan. :)

"Tidak ada kebetulan, yang ada hanya kejadian yang tak terelakkan" - Tsubasa Chronicle


*Mulai ditulis tanggal 13 Agustus 2012

Monday, June 17, 2013

Tujuh Belas Juni

“Jalan yang berliku, penuh tanjakan dan rintangan yang bervariasi itu lebih berkesan, lebih teringat, dan lebih bisa diceritakan dari pada jalanan lurus datar tanpa hambatan sama sekali”

H-1

Terbersit ingin minta doa ke-dua Kaka yang paling keren dan bener-bener menginpirasi. Ba'da maghrib, SMS dikirim. Minta doa (atau saran). Atau mungkin sekedar ngasih berita kalo adeknya yang nakal ini lagi galau kelimpungan.

Beberapa saat kemudian ada balesan dari Kaka #1:

"Ya Rabb. Berikanlah kefahaman ats ilmu, kelancaran dlm penyampaian, dan ketenangan dlm sidang utk adik ku ini... Allah yg Maha Memudahkn. Tidur lbh awal agr dpt QL... "

Aaah.,entah kenapa hati langsung lega. Alhamdulillah. Malam itu emang saya masih sedikit ngereview materi sambil nyelesein PR dari Pa Heroe.

Jam 9 malam. Abang paling kece SMS.

"udah..jangan begadang..

tidur aja..

hahahah"

Ya sudahlah, saya langsung gosok gigi, tidur. Ngikutin Kaka dan abang yg udah punya pengalaman kayak beginian. Dan galau pun ilang.

Hari-H

Ada SMS masuk. Balesan SMS kemaren dari Kaka #2.

"Ahamdulillah bahagia rasanya dapat kabar ini. Semoga Allah memudahkan proses sidangnya dan menguatkan lisan ant dg argumen ilmiah yg meyakinkan. Amin"

Aaaa.,lega rasanya. Semua kaka kaka ini udah tahu dan mendoakan. Beliau-beliau ini tempat curhat TA dulu, curhat tentang organisasi, curhat tentang kepanitiaan, curhat ketika megang amanah koordinator, curhat tentang keluarga, curhat tentang semuanya... Penguatannya sudah lama, jadi serasa lega kalau udah ngasih berita (curhatan galau) ke beliau-beliau yang keren ini.

Ditambah doa dan dukungan temen2 kelas TT3305, temen2 lab PSD dan temen2 serta kaka senior yang lain juga. Makin lengkap ja nih ngusir panik dan grogi. :)

Yah., setidaknya saya yakin., ketika masalah-maslah yg muncul tadi, dan kemudian datang solusinya satu persatu, ketenangan saat pra-sidang, pas-sidang dan pasca-sidang tadi serta kemudahan lisan yang saya dapati itu semua karena doa temen2 semua. Terima kasih sekali lagi temen-temen kaka-kaka... Ternyata saya tidak sidang sendirian. Hehe

Cerita penutup untuk rasa syukur saya ini (*)

Dulu ada seorang raja yang sepanjang hidupnya berbuat maksiat dan zalim. Kemudian dia jatuh sakit. Para tabib meminta raja agar mengucapkan selamat berpisah saja sebab dia tidak bisa disembuhkan, kecuali dengan sejenis ikan. Saat itu bukan musimnya ikan tersebut muncul di permukaan. Tuhan mendengar itu, memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan agar muncul di permukaan. Raja akhirnya dapat makan ikan itu. Dia sembuh.

Pada saat lain di negeri yang lain, ada seorang raja yang adil, saleh , jatuh sakit. Para tabib menyatakan hal yang sama, bahwa obatnya adalah ikan di perairan tertentu. Tapi jangan khawatir, ujar tabib, saat ini adalah saat ikan itu bermunculan di permukaan. Jadi, dengan mudah akan didapatkan obat bagi sakitnya sang raja. Saat itu Tuhan memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu di tempat tersembunyi. Tentu saja, raja yang saleh dan adil itu menghembuskan napasnya terakhir.

Konon, para malaikat kebingungan, Mengapa doa raja yang saleh tidak dipenuhi sementara doa raja yang zalim dipenuhi? Kemudian Tuhan berkata: “Walaupun raja itu zalim, dia pernah berbuat baik. Demi kasih sayangKu, Aku berikan balasan pahala amal baiknya. Sebelum meninggal dunia, masih ada amal baiknya yang belum Aku balas. Maka Kusegerakan membalasnya, supaya dia datang kepada-Ku hanya dengan membawa dosa-dosanya. Demikian juga dengan raja yang soleh. Walaupun dia banyak berbuat baik, dia pernah berbuat buruk. Aku balas semua keburukannya dengan musibah. Menjelang kematiannya, masih ada dosanya yang belum Aku balas. Maka, Aku tolak doanya untuk dapat kesembuhan, supaya jika datang kepada-Ku, dia hanya membawa amal salehnya.”

Mungkin Allah menjawab doa saya dalam mempermudah, karena Allah ingin menunjukkan kasih sayang-Nya walaupun banyak dosa yang saya perbuat.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

 

#Saat perjalanan menuju Depok. Ninggalin semua hal tentang Tugas Akhir dan revisi. Rehat sejenak. Giliran saya jadi Kaka yang baik buat adeknya

(*) Mengutip dari cerita di buku “Karena Allah selalu bersamamu” karangan Qamaruzzaman Awwab.

Thursday, April 25, 2013

Sebuah Mimpi di Ufuk Timur

Mentari pagi di ufuk timur
Anggun, berwarna dan apik dalam terbitnya
Sangat memukau, kontras warna dengan gelap malam lalu
Warna yang nyata dalam hitam kelam ketakutan malam
Pertanda hari belum berakhir yang ditakuti insan beriman taqwa

Mentari pagi di ufuk timur
Tersipu malu dalam tidurnya
Tak ada awan disana, tak ada yang menghalanginya
Dia bebas menyinari insan yang kelam dalam kegelapan malam
Ah., indahnya ciptaan Allah Yang Maha Esa

Mentari pagi naik dari peraduannya
Sungguh indah dalam balutan warna menyala
Hangat, menyembuhkan luka yang lama tersimpan semalam tanpa seorang pun tahu
Cahayanya menembus jauh merasuk dalam kegelapan hati yang meronta-ronta dalam buta
Warna yang alami, sungguh alami tuk mengobati racun kepenatan dunia
Bara api terasa, serasa aku dibakar semangat menyala perang Badhar
Berkobar-kobar menyala tak terkalahkan dan sangat menyala

Ku masuki alam mimpiku dalam pejaman mata anugrah Allah Yang Maha Esa
Mengalihkan keindahan serta kedamaian yang aku rasa
Semua sama, tak ada yang beda
tak ada yang hilang dalam batas mayaku
Hangat, Terang, Membara, Berwarna
Dalam keindahan pagi mempesona
Aku tak ingin pergi dan aku tak ingin membuka batas mimpiku
Karena…
Dalam mimpiku, engkaulah sang Mentari pagi itu…

7 Agustus 2008
Karya: Aditya Dwi Pramono

 
Copyright (c) 2010 Bermula dari Awal and Powered by Blogger.