Monday, September 23, 2013

Malu

"Sudah saatnya saya tarik kaki kamu supaya balik ke tanah"

Saat itu hari pertama pekan pendaftaran sidang shift 2, Senin, 3 Juni 2013. Berbekal percaya diri, kesiapan serta ijin dari Pembimbing kedua, saya pun meminta persetujuan ke Pembimbing wahid untuk mendaftar sidang periode itu.

Seperti biasa, saya siapkan materi diskusi yang harus (baca: sangat sekali disarankan) berbentuk grafik atau data yang udah jadi, tinggal baca dan analisis. Kenapa? Karena kalo nggak, niscaya materinya nggak dibaca (dengan sepenuh hati) sama Beliau hehehe. Janjian dengan Bapanya. SMS cukup. Nggak berani telpon, takut ngeganggu waktu beliau untuk ngurusin kampus.

Dapat balasan, approval  jam 4 sore di ruangan beliau. LC lantai 5.

Saya sengajakan datang lebih awal, 5 menit sebelum kesepakatan sudah menunggu (baca: antre) bertemu Beliau. Yah, antre, karena ada Ka Edu yang bernasib sama: jam 4 sore ketemu Beliau di ruangannya. Bercakap-cakaplah kita sambil membunuh waktu karena Beliau ternyata belum sampe ke ruangan, telat bilangnya. OK lah.,maklumkan saja.

Setengah jam berlalu.
Dateng pula rombongan 'pasien' yang lain. Ka Rezade dan Ridwan. Bernasib sama: janjian ketemu, tapi jam 4.30. Yasudah, malah cerita kemana-mana jadinya gara-gara dua orang ini dateng hahaha, pun untuk membunuh waktu.

Jam 5 lewat sekian menit.
Bapanya dateng juga. Terlihat dari dalam lift, kedua telapak tangannya disatukan dan diletakkan di depan dada. Bibirnya bergerak. Saya yakin beliau bilang "Sorry ya telat.." pun ketika keluar dan menyapa kita. Salaman, diajak masuk ke ruangannya.

Diskusi dimulai
Dimulai dari Ka Edu tentang materi (lebih ke arah curhat sepertinya, gimana 'Bapa' dengan anak).
Ketika mulai giliran saya, grafik diambil, dilihat sama Bapanya sebentar, dibaca. Dan mulailah diskusinya. Pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh Pembimbing kedua tempo hari, pun saya jawab dengan jawaban yang sama. De javu. Tapi...
Beliau terus bertanya 'iya KENAPA?' dan 'KENAPA kok bisa gitu?' dan KENAPA yang lain...
Abis kata.
Kemudian hal yang paling tolol dan memalukan keluar dari mulut saya:

"Saya kan sebenernya orang sinyal, jadi yang bagian ini sejujurnya saya masih agak lemah Pa"

Berharap itu tameng dan pembenaran alasan terakhir materi diskusi saya hari itu terselamatkan. Tapi ternyata

"Loh.,saya nggak mau meng-iya-kan pernyataan kamu itu. Ini bukan masalah kamu orang sinyal, siskom ato jaringan dsb, ini masalah dasar kok. Fisika malahan"
balas Bapanya dengan wajah khas yang serius tapi tetep ramah dan suka senyum-senyum.

"kamu itu belum wise berarti Dit, masih dalam tingkatan knowledge"

"jadi di alam semesta ini ada berbagai macam data, dari berbagai macam data itu kita ambil beberapa aja yang penting dan berguna, jadilah informasi" Terang Bapanya.

"kemudian dari informasi-informasi tertentu, digabungkan jadi knowledge, ilmu"

"nah.,dari ilmu-ilmu ini, maka akan timbul wise (bijak)"

"Pada tingkatan knowledge orang mungkin bisa fanatik. Dia hanya melihat dari satu knowledge tertentu. Wise itu tingkatan paling tinggi, ngeliat dari berbagai disiplin ilmu"

Menit berikutnya saya dapat cerita pengalaman hidup beliau tentang aliran fanatik dalam agama. Waaah.,dapat pelajaran hidup berharga lah..alhamdulillah... *materi bimbingan terabaikan*

Saya tahu, beliau sebenernya ingin ngomong saya salah. Hasil TA saya menyimpang. Mungkin parah. Tapi tetep diterima, karena sebenernya nggak ada yang salah kalo alasannya benar.

Selesai pelajaran hidupnya. Back to topic.
Pas lagi ngerenung nerima ucapan Bapanya yang ngebuka hati. Tiba-tiba

“Kamu mau sidang kapan Dit?”

Kaget Bapanya nanya itu.

“Yang periode sekarang Pa, Jum’at terakhir pendaftarannya..”

“Ooh, udah bikin kan ya slidenya? Di email ya?”

“Nggih Pa..”

Menit berikutnya beliau ngoreksi slide: ngoreksi Bahasa Inggris tepatnya. Hehe.
Dan...

“Ya sudah kamu kerjain aja dulu..saya mau lihat hasilnya...” Sambil Bapnya senyum keliatan giginya...

Menit berikutnya saya malu. Malu udah ngomong saya lemah terhadap sesuatu karna background tertentu. Malu karna saya udah fanatik. Malu karna saya coba memberi alasan yang salah. Malu karna saya udah ngebatasin kemampuan saya sendiri. Dan malu, karena 21 tahun lebih hidup, nggak  ngerasa kalo terlalu banyak sifat fanatik, yang merasa bangga akan ilmu dan possession tertentu padahal masih di tingkatan knowledge. Astaghfirullah....

Hari itu saya cukupkan dengan bilang terima kasih sebanyak-banyaknya ke Bapanya. Cium tangan. Membawa pulang rasa malu, membawa pulang tugas baru untuk dikerjakan. Mengejar agar tak lewat batas waktu pendaftaran sidang pekan itu. Empat hari lagi.

Sunday, September 15, 2013

Day #1 Kedatangan

"ini daging apaan?" tanya dia pada kami
"daging sapi mas itu" jawab mas-mas si penjual menimpali. Kami sendiri malahan enggan ngejawab.

Rabu, 21 Agustus 2013
Kami sampai di Stasiun terakhir: Banyuwangi Baru. Malam hari pukul 9 waktu itu. Kami sempatkan makan malam di warung depan stasiun. Hanya menu rawon yang tersisa ternyata. Apa boleh buat, pilihan menu yang makin banyak malah bikin perut tertunda lagi dijejali makanan. Tak lama, 5 porsi rawon datang, siap kami santap. Dan percakapan itu, menyadarkan saya. Kami sejengkal lebih dekat dengan Bali. Tempat para muslim lebih selektif dalam memasukkan makanan ke kerongkongan mereka.

Di depan Pelabuhan Ketapang

Pelabuhan Ketapang dan Stasiun Banyuwangi Baru hanya berjarak tak lebih dari setengah mil. 10 menit jalan kaki sampai. Setelah membeli tiket, segera kami naik kapal. Pukul 10.30 kapal mulai bergerak. Meninggalkan Jawa, menuju Bali. Tak banyak yang bisa dilakukan di atas kapal, hawa dingin angin darat duet dengan angin malam memaksa penumpang agar lebih baik untuk segera tidur. Tak perlu pusingkan perjalanan, tak ada pemandangan yang dapat dilihat pula di tengah selat yang gelap ini.

Menuju Kapal Fery

Satu jam perjalanan kami diayun gelombang di atas kapal. Akhirnya, terlihat gemerlap lampu di ujung sana. Daratan. Ya.,itu Pelabuhan Gilimanuk. Itu Bali. Hey, sekarang jam 12.30 WITA. Satu jam kami tersita gara-gara kami bergerak melebihi batas per 15' garis Bujur. Selamat hari Kamis buat kamu yang selalu optimis akan janji Allah yang selalu manis.

Kamis, 22 Agustus 2013
Setelah melewati 'bagian imigran' dengan mengecek dokumen kartu tanda penduduk (cuman dicocokkin foto KTP dan wajah kami sekarang), kami resmi menginjakkan kaki di Bali. Dan disambut oleh calo angkot. Hehe.

Saya nggak suka calo angkot. Sometimes they piss me off. Sorry, but it's true. Pun dalam kasus ini, kami ter-delay satu jam di Terminal, menunggu Bli Supir menggerakkan mobil pencahariannya. Empat jam kami dibawa bus menuju Terminal Ubung, Denpasar.

Menunggu di Terminal Ubung, Denpasar

Saya lirik jam, 4.30 WIB berarti jam setengah 6 waktu di Bali. Kami sampai di Terminal Ubung. Menunggu jemputan datang, agar kami dibawanya pulang ke rumahnya. Dan yak, Kompe dateng finally. 6.30 WITA kami sampai di rumahnya. Kami belum sholat shubuh. Jet-lag membuat kami kepayahan akan waktu dan kondisi. Otomatis merebahkan badan barang satu dua jam bakal memulihkan kondisi. We fell a sleep (again).

"woy bangun woy bangun..udah siang ini!"
Suara Pepe itu. Dia sudah datang (lagi). Saya tahu dia telah menunggu sedari tadi. Kami bergegas, tak usah mandi dulu katanya. Kita akan berendam, biar sekalian aja mandinya.

Kami melaju dengan mobil sewaan. Kompe bertindak sebagai supir, didampingi Yudha sebagai co-supir. Menembus Denpasar, di pagi menjelang siang waktu itu. Mampir di warung makan, lawar kuwir menunya. Daging bebek yang dilawar. Entah dilawar itu diapakan, tapi itu enak. Dan halal. InsyaAllah...hehe

Mobil kami lajukan kembali hingga sampai di tujuan. Tirtha Empul namanya, bentuknya pura, dan dibuat untuk wisata religi. Daya tariknya ada pada kolam yang hanya beberapa meter saja dari mata airnya. Selayaknya tempat ibadah, kami harus memakai sarung (atau apalah namanya). Pun ketika berendam di dalam kolam. Setelah dua teman kami bersembahyang, kami semua berendam. Dingin, tapi segar. Aaah, akhirnya setelah seharian kagak mandi, kena air juga badan ini.

Puas berendam dan mandi, kami lanjut ke Pantai Sanur. Disana seharusnya Kompe beribadah waktu itu bersama keluarga dan penduduk desanya. Dan kami pun seharusnya beribadah pula disana. Sholat Dzuhur jama’ Ashar. Kami beribadah bersama akhirnya, dalam satu waktu, tapi tentu saja beda tempat. Ada Masjid dekat Pantai Sanur. Hari itu, sholat pertama di rumah Allah (di Bali). Ada perasaan lega dan bahagia melihat jamaah lain yang sedang bertemu Tuhannya.

Sepulang dari Pantai Sanur, kami makan malam nasi djinggo dan lanjut pulang ke rumah Kompe. Rehat malam ini, mengisi tenaga untuk besok sepedaan. Mengejar sunrise katanya. Harus bangun pagi buta.

“Ini ada pisang, baru diambil dari kebun belakang” kata Ayah Kompe
Menu supper kami hari itu. Dan kami lebih memilih beberes diri: mandi atau berebut tempat tidur di ruangan praktek milik keluarga Kompe. As usual, saya dapat bagian sisa. Pfft.

Hey, sekarang waktunya kami bertemu Tuhan kami: Maghrib jama’ Isya!! Tidakkah kau rindu bertemu dengan Nya?

Ditulis saat menuju Bandung

Friday, September 13, 2013

Menuju Minor

Mimpi saya berhasil terwujud. Mimpi yang mana? Ah, saya terlalu banyak mimpi ternyata. Mimpi menjadi seorang minor. Minoritas di suatu lingkungan. Aneh kan? Entah kepikiran darimana bisa sampai punya mimpi kayak gitu, jangan ditanya.

Pastinya,mimpi itu ya mungkin (sudah) terwujud sebelumnya. Mungkin. But heey, it's coming true. It was real...

Saya jadi minoritas Muslim di Bali. Diapit para pemeluk taat ajaran Hindu. Walau tak lebih dari sepekan disana, tapi minoritas itu memahamkan dan menyadarkan saya satu dua hal.

Saya bisa merasakan cinta dan rindu akan sholat berjamaah di masjid. Sungguh sangat nikmat dan indah rasanya ketika kita berjumpa dengan saudara kita yang seiman. Memakai baju muslim di tengah-tengah pakaian adat Bali. Aaah.,rasanya ingin sekali bertukar pandang dan bertukar cerita tentang kehidupan mereka.

Rasa rindu akan nikmatnya beribadah, kemudahan-kemudahan untuk beribadah, dan tetap menjaga kesucian diri merupakan cerita berikutnya. Gimana rasanya ketika kewajiban dan kebutuhan kita nggak dipenuhi saat kewajiban itu harus segera terpenuhi saat itu juga. Aaah, begitu rasanya was-was dan tak enak saat hal pokok belum terbayar. Dan begitu rasanya lega saat hal pokok itu sudah terbayar.

Suatu hari, akan ada hari, pekan, bulan atau tahun dimana saya merasakan minoritas lagi: menjadi minoritas Muslim. Melangkah dari zona aman dan menjadi agen Muslim yang senantiasa menyebarkan nilai-nilai Islam.
.....

Fariz Dwi Pratama namanya. Dia yang pertama kali berkicau (atau lebih tepatnya mengeluh) akan liburan sepuasnya terlebih dulu ketika beban Tugas Akhir terpenuhi dan mendapat gelar Sarjana. Tak mau dia beranjak ke beban berikutnya: Mencari Kerja. Itu pun yang ada di pikiran saya waktu itu. Menikmati pasca-TA dengan membuang penat, dan melepas rutinitas agaknya menjadi daya tarik tersendiri untuk segera dipenuhi. Tentu, saya meng-amini kicauannya. Hahaha

Saat itu, ada kami bertiga. A.A Kompyang Giri Sutha orang ketiga di ruangan itu. Panggil saja Kompe. Tak perlu ditanyakan apa yang kami lakukan, saat itu jelas obrolan TA jadi trending topic di lab bagi mahasiswa angkatan kita. Ah ya..saat itu kami masih mahasiswa. Dan, Kompe menimpali dengan membuka opini: “Liburan ke Bali, bertandang ke rumahnya.”

Why not?

.....

Yasir Chairuman Tasa. Orang yang kami ajak, bernasib sama: tak mau ambil beban terlebih dahulu setelah melepas beban TA. Sore itu, sembari menunggu berbuka puasa dia mengajak kami bertiga membuat planning liburan. Jika yang disebut planning adalah bagaimana keluar dari pulau Jawa dan kembali lagi ke pulau Jawa setelah beberapa hari. Karena beberapa hari yang bukan di pulau Jawa sama sekali tidak kami rencanakan. Hah, mungkin ‘tak terencana’ adalah bagian dari rencana kami waktu itu. Haha. Rencana selesai, kami jual pada teman-teman yang lain: tertarik? Mau berlibur bersama? Karena butuh komitmen dan secuil sentakan yang pasti beresiko, pada akhirnya, hanya ada dua orang yang berlibur bersama kami: Yudha Ryandieka dan Lerry B. Nugraha.

....

Jogjakarta, 20 Agustus 2013
Kami tetapkan Kota Pelajar itu sebagai tempat berkumpul. Fariz yang pertama kali sampai disana, siang hari dia sampai. Saya dan Yasir baru menyusulnya malam kemudian. Karena kereta baru akan berangkat esok hari, kami bertiga harus sudi bermalam di Jogja agar tak tertinggal. Kami berdua bermalam di rumah Arief Hidayatullah, teman kami yang kebetulan sedang di rumah. Sedangkan Fariz, dia bermalam di kosan temannya.

Dua orang berikutnya datang keesokan harinya: Yudha dan Lerry. Bertolak dari Bandung dan sampai di Jogja subuh-subuh. Lengkap sudah kami berlima.

Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta, Selasa 21 Agustus 2013 awal keberangkatan kami menggali cerita di pulau Bali. Perjalanan kami berlima bermula dari sini.

Saya lirik jam. 7:58a kereta mulai bergerak.

Di depan Kereta Sri Tanjung, Stasiun Lempuyangan Jogjakarta
Yasir, Fariz, Adit

Yudha, Lerry

#Saat pulang dari Jogja menuju rumah.

Thursday, September 12, 2013

Pra Keberangkatan


Selasa, 20 Agustus 2013
Suasana pagi di Rumah nggak kaya biasanya. Semua sibuk akan berangkat. Ibu jelas, beliau bergegas menunaikan tugas mulianya: nyiapin sarapan, dan lanjut mengajar nanti. Abang: bergegas mau nganter Ade ke stasiun. Pun dia juga bergegas akan ke Semarang, psikotest sambung wawancara kerja. Ade: bergegas ke Bogor. Ngupgrade diri, menunaikan amanah kuliah di kampus impiannya sekaligus menapaki mimpinya. Saya sendiri: bergegas mau ke Semarang. Tujuannya? Paling nyeleneh sendiri. Main. Pfft.

Dengan packing seadanya. Berangkat terburu-buru. Uang? Belum ambil di ATM. Bekal makanan? Apalagi, nggak sama sekali. Cuman restu dan cium tangan Ibu aja yang nggak ketinggalan.

Sengaja saya berangkat pagi untuk mengejar kereta ke Semarang. Jam 9.15a jadwal berangkatnya. Perjalanan rumah stasiun sekitar 1,5 jam. Hey, sekarang jam 7.30a dari rumah. Kekejar kah? Pun dengan kondisi belum ada tiket. Pfft.
Dan lihatlah...masih sempet saya naik kereta. 8.56a purchased a ticket. Sung naik. Dan kereta berangkat jam 9.15a menuju Semarang Poncol.

Pagi itu, rumah langsung sepi. Seketika....
Padahal kemarin masih ada obrolan serius antara anak orang tua. Masih ada candaan khas Ibu. Masih ada 'ngomel-ngomelan' khas Ibu.

Dan, cerita bab baru pun dimulai. Berlibur ke pulau minoritas muslim di negara mayoritas muslim: Bali.

Hari sebelumnya. Senin,19 Agustus 2013
Hari ini berbeda. Tentu. It's Monday. Pagi-pagi, seperti biasa, kami beraktivitas pagi. Bedanya, Si Ibu siap-siap berangkat mengajar. Ya.,hari ini tahun ajaran baru dimulai. Tahun ajaran 2013/14. Libur panjang lebaran selesai. Ayo Sekolah..

.....

Si Ade packing. Besok berangkat ke Bogor dia. Karena itu, saya pun ikutan packing untuk acara liburan saya lusa. Biar si Ade ada temennya. Si Ade beli perlengkapan-perlengkapan, pun saya ikuti dengan hal yang sama. Packing ada temennya ternyata asik juga, ngerasa nggak bakalan pergi sendirian. Haha

....

Bulik datang, ngajakin bikin SIM besok di Brebes. Ini udah wacana lama sih, jadi hari ini Bulik tinggal mastiin aja. Karena ini udah perintah dari Si Ibu, yasudah saya mah ikut aja suruh bikin SIM. Pan malah enak ada temennya.

.....

Siang hari, petugas Telkom datang. Langsung naik DP depan rumah. Hampir sebulan telepon rumah kami nggak berfungsi. Nggak ada idle tone. Ternyata, kabel dari MSAN ke DP daerah saya yg bermasalah. Satu DP mati semua telepon dan internetnya. Kata Bapak-bapak lapangannya sih sudah minta ajuin buat diganti, tapi nyatanya sampe sekarang belum. Karena rumah kami yangg aktif komplain, dan kebetulan sudah (lumayan) kenal sama bapak-bapak lapangannya. Jadilah line telepon kami dipindah pake punya orang. Artinya, orang itu yang gantian nggak dapet idle tone. :) Ini gara-gara anaknya belajar di Telkom, Si Ibu nyuruh saya nemenin bapak-bapak lapanganya. Besok katanya mereka mau kesini lagi. OK, nanti saya temenin lagi.
Koneksi datang, kami pun senang. Kami bertiga: Abang Ade, berebut (sebenernya ga rebutan sih, udah gedhe rebutan mulu) gantian make. Berseluncur, mengunduh dan mengunggah. Aaah..internet, kau begitu kami rindukan seperti halnya kami rindu bertemu Ramadhan lagi. (tapi sepertinya harus lebih rindu ketemu Ramadhan)

PC tetap on sampai malam menjelang tidur, menemani Si Ade yang sibuk packing. Saya mah udah selese (setidaknya untuk hari ini), sekarang lagi sibuk mengunduh. Haha

"...Lih, disana gaul sama orang yang bener. Jangan yang begajulan..." saya denger Si Ibu lagi ngomong serius sama Si Ade. Saya diem dengerin aja, sambil sesekali nimpalin pake ketawa. Haha. Abisnya lucu, Si  Ade diajakin ngomong serius malah becanda., Si Ibu juga jadinya malah tanya yang aneh-aneh..haha. Ya.,walaupun sambil rada ngomel-ngomel, gara-gara nggak serius. Khas ngomel Ibu, Ibu yang punya anak cowo. Tiga lagi. Percayalah, saya pun pernah diobrolin hal yang sama.. Bedanya, saya jadi pendengar setia :)

"Telinga Ibu agak sakit, besok mau ke THT lah" Si Ibu ngobrol saat saya lagi nemenin Si Ade packing di ruang tengah.

PC off, semua ke kamar masing-masing: bersiap tidur.

Sesaat sebelum mata dipejamkan, saya inget sesuatu. Hal yang krusial. Sangat.

"Ya Allah, besok saya berangkat ke Semarang, bukan lusa"
Bego. Bisa lupa seharusnya berangkat besok.
Liat jam. Jam 11p. Percuma ngelanjut packing. Sekarang butuh istirahat buat besok.
Nggak harus saya ceritain gimana janji dan acara untuk besok. Kalian sudah tahu itu.

Ah ya., Allah punya kejutan-Nya sendiri sebagai hadiah untuk hamba-hambaNya... kejutan yang membuat hamba-hambaNya akan kembali bersimpuh malu, sujud syukur, nangis sesenggukan atau malah berlari menjauh..

Dan malam itu, saya memilih bersimpuh malu dan sujud syukur untuk awal liburan ini...

#Ditulis diatas kereta Sri Tanjung menuju Stasiun akhir Banyuwangi Baru

Tuesday, July 23, 2013

Dua Tahun Berlalu


Teringat dua tahun silam, ketika saya mudik dengan Dialga (nama motor saya ni, bukan nama Pokemon. Hehe). Ternyata perjalanan nggak selancar yang saya doakan. Dua jam setelah keberangkatan saya dari Bandung, di sebuah jalanan turun menikung ke kiri, tiba-tiba setang oleng, horizontal berputar, dan detik berikutnya badan terasa lebih berat. Dialga menindih badan bagian bawah, tangan masih setia memegang setang, dan kepala diatas tanah, percis seperti orang tertidur dengan posisi miring ke samping. Disini cerita lengkapnya.

Dua tahun sudah berlalu. Kenangan pengalaman itu ternyata tetap saja menyimpan rahasia Allah yang beberapa hari ini akhirnya saya mengerti. Skenario hidup yang sudah Allah rencanakan untuk dirasakan manisnya di kemudian hari. Alhamdulillah

Pertama, jatuhnya Dialga itu ternyata jadi alibi yang sangat kuat untuk menutupi keburukan orang lain. Well, sebelumnya Dialga pernah jatuh dengan kondisi lebih parah oleh orang lain. Dan jujur, orang rumah nggak ada yang tahu. Niatnya biar mereka tahu sendiri ketika lihat Dialga pas nyampe di rumah. Sudah siap mental dan jawaban seperlunya pas di interogasi nanti. Eh.,tapi Allah berkehendak lain..

Berikutnya, mungkin itu cuman kecelakaan biasa bagi kebanyakan orang. Tapi setelah dipikir-pikir. TKP nya itu agak menarik untuk diperdalam. Ketika kemudian saya sembuh dan bolak-balik lagi melewati TKP, ternyata tempatnya memang unik.  ±100m Sebelum TKP kanan kiri jalan tak berpenduduk, hanya sawah dan semak. Baru muncul satu warung (rumah kecil) di kiri jalan tepat di dekat TKP. Subhanallah sekali. Allah merencanakan agar jatuhnya di dekat penduduk, supaya ada pertolongan. Kalau nggak, entahlah apa jadinya...

Dan ketika saya memutuskan melanjutkan perjalanan dengan 'luka', dan rehat di Masjid terdekat untuk sholat dzuhur, ternyata Allah ngasih skenario lagi. Saya dipertemukan oleh Bapa paruh baya, beliau ngerasa simpati lihat kondisi saya yang penuh luka. Beliau ngasih pertolongan pertama dari mobilnya. Sudi untuk membelikan plaster dan memberikannya secara cuma-cuma pula. Melalui beliau juga, saya dipertemukan oleh Ibu-Ibu yang punya obat super mujarab dari negeri asing (katanya). Hahaha. Katanya bisa nyembuhin luka dengan cepat. Hmmm, kebetulan rumahnya adalah toko di kompleks masjid. Dengan sukarela, Ibu itu mengolesi semua luka yang saya punya. Perihnya bukan main, tapi tak apalah, beliau bilang itu tandanya obat yang bagus. Tak lupa, beliau pun menyuguhkan segelas air putih (ini suruh batalin puasa). Terakhir, luka ditutup kain kassa dengan bantuan Sang Ibu.
Coba kalo nggak dikasih disinfektan, bisa makin parah lukanya, dan entah bagaimana kelanjutannya...

Kebetulan?
Bahkan ketika sampai di rumah (tentu dengan waktu yang lebih-lebih lama dari yang biasanya). Dan langsung ke dokter terdekat diantar Ayah. Kau tahu, waktunya sangat mepet dan pas, 6 jam batas toleransi suatu luka harus dibawa ke dokter (Dokternya sendiri yang bilang). Biasanya lebih dari itu, bisa infeksi yang berujung amputasi (misalnya) atau suatu catat. Fiuuuuuh.., coba kalo telat sampai rumah, entah gimana kabar berikutnya..

Mungkin sekarang masih kebetulan, tapi suatu hari nanti, kebetulan itu akan berubah jadi skenario Allah yang terindah yang Allah siapkan untuk dikecup manisnya belakangan. :)

"Tidak ada kebetulan, yang ada hanya kejadian yang tak terelakkan" - Tsubasa Chronicle


*Mulai ditulis tanggal 13 Agustus 2012
 
Copyright (c) 2010 Bermula dari Awal and Powered by Blogger.