Thursday, September 12, 2013

Pra Keberangkatan


Selasa, 20 Agustus 2013
Suasana pagi di Rumah nggak kaya biasanya. Semua sibuk akan berangkat. Ibu jelas, beliau bergegas menunaikan tugas mulianya: nyiapin sarapan, dan lanjut mengajar nanti. Abang: bergegas mau nganter Ade ke stasiun. Pun dia juga bergegas akan ke Semarang, psikotest sambung wawancara kerja. Ade: bergegas ke Bogor. Ngupgrade diri, menunaikan amanah kuliah di kampus impiannya sekaligus menapaki mimpinya. Saya sendiri: bergegas mau ke Semarang. Tujuannya? Paling nyeleneh sendiri. Main. Pfft.

Dengan packing seadanya. Berangkat terburu-buru. Uang? Belum ambil di ATM. Bekal makanan? Apalagi, nggak sama sekali. Cuman restu dan cium tangan Ibu aja yang nggak ketinggalan.

Sengaja saya berangkat pagi untuk mengejar kereta ke Semarang. Jam 9.15a jadwal berangkatnya. Perjalanan rumah stasiun sekitar 1,5 jam. Hey, sekarang jam 7.30a dari rumah. Kekejar kah? Pun dengan kondisi belum ada tiket. Pfft.
Dan lihatlah...masih sempet saya naik kereta. 8.56a purchased a ticket. Sung naik. Dan kereta berangkat jam 9.15a menuju Semarang Poncol.

Pagi itu, rumah langsung sepi. Seketika....
Padahal kemarin masih ada obrolan serius antara anak orang tua. Masih ada candaan khas Ibu. Masih ada 'ngomel-ngomelan' khas Ibu.

Dan, cerita bab baru pun dimulai. Berlibur ke pulau minoritas muslim di negara mayoritas muslim: Bali.

Hari sebelumnya. Senin,19 Agustus 2013
Hari ini berbeda. Tentu. It's Monday. Pagi-pagi, seperti biasa, kami beraktivitas pagi. Bedanya, Si Ibu siap-siap berangkat mengajar. Ya.,hari ini tahun ajaran baru dimulai. Tahun ajaran 2013/14. Libur panjang lebaran selesai. Ayo Sekolah..

.....

Si Ade packing. Besok berangkat ke Bogor dia. Karena itu, saya pun ikutan packing untuk acara liburan saya lusa. Biar si Ade ada temennya. Si Ade beli perlengkapan-perlengkapan, pun saya ikuti dengan hal yang sama. Packing ada temennya ternyata asik juga, ngerasa nggak bakalan pergi sendirian. Haha

....

Bulik datang, ngajakin bikin SIM besok di Brebes. Ini udah wacana lama sih, jadi hari ini Bulik tinggal mastiin aja. Karena ini udah perintah dari Si Ibu, yasudah saya mah ikut aja suruh bikin SIM. Pan malah enak ada temennya.

.....

Siang hari, petugas Telkom datang. Langsung naik DP depan rumah. Hampir sebulan telepon rumah kami nggak berfungsi. Nggak ada idle tone. Ternyata, kabel dari MSAN ke DP daerah saya yg bermasalah. Satu DP mati semua telepon dan internetnya. Kata Bapak-bapak lapangannya sih sudah minta ajuin buat diganti, tapi nyatanya sampe sekarang belum. Karena rumah kami yangg aktif komplain, dan kebetulan sudah (lumayan) kenal sama bapak-bapak lapangannya. Jadilah line telepon kami dipindah pake punya orang. Artinya, orang itu yang gantian nggak dapet idle tone. :) Ini gara-gara anaknya belajar di Telkom, Si Ibu nyuruh saya nemenin bapak-bapak lapanganya. Besok katanya mereka mau kesini lagi. OK, nanti saya temenin lagi.
Koneksi datang, kami pun senang. Kami bertiga: Abang Ade, berebut (sebenernya ga rebutan sih, udah gedhe rebutan mulu) gantian make. Berseluncur, mengunduh dan mengunggah. Aaah..internet, kau begitu kami rindukan seperti halnya kami rindu bertemu Ramadhan lagi. (tapi sepertinya harus lebih rindu ketemu Ramadhan)

PC tetap on sampai malam menjelang tidur, menemani Si Ade yang sibuk packing. Saya mah udah selese (setidaknya untuk hari ini), sekarang lagi sibuk mengunduh. Haha

"...Lih, disana gaul sama orang yang bener. Jangan yang begajulan..." saya denger Si Ibu lagi ngomong serius sama Si Ade. Saya diem dengerin aja, sambil sesekali nimpalin pake ketawa. Haha. Abisnya lucu, Si  Ade diajakin ngomong serius malah becanda., Si Ibu juga jadinya malah tanya yang aneh-aneh..haha. Ya.,walaupun sambil rada ngomel-ngomel, gara-gara nggak serius. Khas ngomel Ibu, Ibu yang punya anak cowo. Tiga lagi. Percayalah, saya pun pernah diobrolin hal yang sama.. Bedanya, saya jadi pendengar setia :)

"Telinga Ibu agak sakit, besok mau ke THT lah" Si Ibu ngobrol saat saya lagi nemenin Si Ade packing di ruang tengah.

PC off, semua ke kamar masing-masing: bersiap tidur.

Sesaat sebelum mata dipejamkan, saya inget sesuatu. Hal yang krusial. Sangat.

"Ya Allah, besok saya berangkat ke Semarang, bukan lusa"
Bego. Bisa lupa seharusnya berangkat besok.
Liat jam. Jam 11p. Percuma ngelanjut packing. Sekarang butuh istirahat buat besok.
Nggak harus saya ceritain gimana janji dan acara untuk besok. Kalian sudah tahu itu.

Ah ya., Allah punya kejutan-Nya sendiri sebagai hadiah untuk hamba-hambaNya... kejutan yang membuat hamba-hambaNya akan kembali bersimpuh malu, sujud syukur, nangis sesenggukan atau malah berlari menjauh..

Dan malam itu, saya memilih bersimpuh malu dan sujud syukur untuk awal liburan ini...

#Ditulis diatas kereta Sri Tanjung menuju Stasiun akhir Banyuwangi Baru

Tuesday, July 23, 2013

Dua Tahun Berlalu


Teringat dua tahun silam, ketika saya mudik dengan Dialga (nama motor saya ni, bukan nama Pokemon. Hehe). Ternyata perjalanan nggak selancar yang saya doakan. Dua jam setelah keberangkatan saya dari Bandung, di sebuah jalanan turun menikung ke kiri, tiba-tiba setang oleng, horizontal berputar, dan detik berikutnya badan terasa lebih berat. Dialga menindih badan bagian bawah, tangan masih setia memegang setang, dan kepala diatas tanah, percis seperti orang tertidur dengan posisi miring ke samping. Disini cerita lengkapnya.

Dua tahun sudah berlalu. Kenangan pengalaman itu ternyata tetap saja menyimpan rahasia Allah yang beberapa hari ini akhirnya saya mengerti. Skenario hidup yang sudah Allah rencanakan untuk dirasakan manisnya di kemudian hari. Alhamdulillah

Pertama, jatuhnya Dialga itu ternyata jadi alibi yang sangat kuat untuk menutupi keburukan orang lain. Well, sebelumnya Dialga pernah jatuh dengan kondisi lebih parah oleh orang lain. Dan jujur, orang rumah nggak ada yang tahu. Niatnya biar mereka tahu sendiri ketika lihat Dialga pas nyampe di rumah. Sudah siap mental dan jawaban seperlunya pas di interogasi nanti. Eh.,tapi Allah berkehendak lain..

Berikutnya, mungkin itu cuman kecelakaan biasa bagi kebanyakan orang. Tapi setelah dipikir-pikir. TKP nya itu agak menarik untuk diperdalam. Ketika kemudian saya sembuh dan bolak-balik lagi melewati TKP, ternyata tempatnya memang unik.  ±100m Sebelum TKP kanan kiri jalan tak berpenduduk, hanya sawah dan semak. Baru muncul satu warung (rumah kecil) di kiri jalan tepat di dekat TKP. Subhanallah sekali. Allah merencanakan agar jatuhnya di dekat penduduk, supaya ada pertolongan. Kalau nggak, entahlah apa jadinya...

Dan ketika saya memutuskan melanjutkan perjalanan dengan 'luka', dan rehat di Masjid terdekat untuk sholat dzuhur, ternyata Allah ngasih skenario lagi. Saya dipertemukan oleh Bapa paruh baya, beliau ngerasa simpati lihat kondisi saya yang penuh luka. Beliau ngasih pertolongan pertama dari mobilnya. Sudi untuk membelikan plaster dan memberikannya secara cuma-cuma pula. Melalui beliau juga, saya dipertemukan oleh Ibu-Ibu yang punya obat super mujarab dari negeri asing (katanya). Hahaha. Katanya bisa nyembuhin luka dengan cepat. Hmmm, kebetulan rumahnya adalah toko di kompleks masjid. Dengan sukarela, Ibu itu mengolesi semua luka yang saya punya. Perihnya bukan main, tapi tak apalah, beliau bilang itu tandanya obat yang bagus. Tak lupa, beliau pun menyuguhkan segelas air putih (ini suruh batalin puasa). Terakhir, luka ditutup kain kassa dengan bantuan Sang Ibu.
Coba kalo nggak dikasih disinfektan, bisa makin parah lukanya, dan entah bagaimana kelanjutannya...

Kebetulan?
Bahkan ketika sampai di rumah (tentu dengan waktu yang lebih-lebih lama dari yang biasanya). Dan langsung ke dokter terdekat diantar Ayah. Kau tahu, waktunya sangat mepet dan pas, 6 jam batas toleransi suatu luka harus dibawa ke dokter (Dokternya sendiri yang bilang). Biasanya lebih dari itu, bisa infeksi yang berujung amputasi (misalnya) atau suatu catat. Fiuuuuuh.., coba kalo telat sampai rumah, entah gimana kabar berikutnya..

Mungkin sekarang masih kebetulan, tapi suatu hari nanti, kebetulan itu akan berubah jadi skenario Allah yang terindah yang Allah siapkan untuk dikecup manisnya belakangan. :)

"Tidak ada kebetulan, yang ada hanya kejadian yang tak terelakkan" - Tsubasa Chronicle


*Mulai ditulis tanggal 13 Agustus 2012

Monday, June 17, 2013

Tujuh Belas Juni

“Jalan yang berliku, penuh tanjakan dan rintangan yang bervariasi itu lebih berkesan, lebih teringat, dan lebih bisa diceritakan dari pada jalanan lurus datar tanpa hambatan sama sekali”

H-1

Terbersit ingin minta doa ke-dua Kaka yang paling keren dan bener-bener menginpirasi. Ba'da maghrib, SMS dikirim. Minta doa (atau saran). Atau mungkin sekedar ngasih berita kalo adeknya yang nakal ini lagi galau kelimpungan.

Beberapa saat kemudian ada balesan dari Kaka #1:

"Ya Rabb. Berikanlah kefahaman ats ilmu, kelancaran dlm penyampaian, dan ketenangan dlm sidang utk adik ku ini... Allah yg Maha Memudahkn. Tidur lbh awal agr dpt QL... "

Aaah.,entah kenapa hati langsung lega. Alhamdulillah. Malam itu emang saya masih sedikit ngereview materi sambil nyelesein PR dari Pa Heroe.

Jam 9 malam. Abang paling kece SMS.

"udah..jangan begadang..

tidur aja..

hahahah"

Ya sudahlah, saya langsung gosok gigi, tidur. Ngikutin Kaka dan abang yg udah punya pengalaman kayak beginian. Dan galau pun ilang.

Hari-H

Ada SMS masuk. Balesan SMS kemaren dari Kaka #2.

"Ahamdulillah bahagia rasanya dapat kabar ini. Semoga Allah memudahkan proses sidangnya dan menguatkan lisan ant dg argumen ilmiah yg meyakinkan. Amin"

Aaaa.,lega rasanya. Semua kaka kaka ini udah tahu dan mendoakan. Beliau-beliau ini tempat curhat TA dulu, curhat tentang organisasi, curhat tentang kepanitiaan, curhat ketika megang amanah koordinator, curhat tentang keluarga, curhat tentang semuanya... Penguatannya sudah lama, jadi serasa lega kalau udah ngasih berita (curhatan galau) ke beliau-beliau yang keren ini.

Ditambah doa dan dukungan temen2 kelas TT3305, temen2 lab PSD dan temen2 serta kaka senior yang lain juga. Makin lengkap ja nih ngusir panik dan grogi. :)

Yah., setidaknya saya yakin., ketika masalah-maslah yg muncul tadi, dan kemudian datang solusinya satu persatu, ketenangan saat pra-sidang, pas-sidang dan pasca-sidang tadi serta kemudahan lisan yang saya dapati itu semua karena doa temen2 semua. Terima kasih sekali lagi temen-temen kaka-kaka... Ternyata saya tidak sidang sendirian. Hehe

Cerita penutup untuk rasa syukur saya ini (*)

Dulu ada seorang raja yang sepanjang hidupnya berbuat maksiat dan zalim. Kemudian dia jatuh sakit. Para tabib meminta raja agar mengucapkan selamat berpisah saja sebab dia tidak bisa disembuhkan, kecuali dengan sejenis ikan. Saat itu bukan musimnya ikan tersebut muncul di permukaan. Tuhan mendengar itu, memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan agar muncul di permukaan. Raja akhirnya dapat makan ikan itu. Dia sembuh.

Pada saat lain di negeri yang lain, ada seorang raja yang adil, saleh , jatuh sakit. Para tabib menyatakan hal yang sama, bahwa obatnya adalah ikan di perairan tertentu. Tapi jangan khawatir, ujar tabib, saat ini adalah saat ikan itu bermunculan di permukaan. Jadi, dengan mudah akan didapatkan obat bagi sakitnya sang raja. Saat itu Tuhan memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu di tempat tersembunyi. Tentu saja, raja yang saleh dan adil itu menghembuskan napasnya terakhir.

Konon, para malaikat kebingungan, Mengapa doa raja yang saleh tidak dipenuhi sementara doa raja yang zalim dipenuhi? Kemudian Tuhan berkata: “Walaupun raja itu zalim, dia pernah berbuat baik. Demi kasih sayangKu, Aku berikan balasan pahala amal baiknya. Sebelum meninggal dunia, masih ada amal baiknya yang belum Aku balas. Maka Kusegerakan membalasnya, supaya dia datang kepada-Ku hanya dengan membawa dosa-dosanya. Demikian juga dengan raja yang soleh. Walaupun dia banyak berbuat baik, dia pernah berbuat buruk. Aku balas semua keburukannya dengan musibah. Menjelang kematiannya, masih ada dosanya yang belum Aku balas. Maka, Aku tolak doanya untuk dapat kesembuhan, supaya jika datang kepada-Ku, dia hanya membawa amal salehnya.”

Mungkin Allah menjawab doa saya dalam mempermudah, karena Allah ingin menunjukkan kasih sayang-Nya walaupun banyak dosa yang saya perbuat.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

 

#Saat perjalanan menuju Depok. Ninggalin semua hal tentang Tugas Akhir dan revisi. Rehat sejenak. Giliran saya jadi Kaka yang baik buat adeknya

(*) Mengutip dari cerita di buku “Karena Allah selalu bersamamu” karangan Qamaruzzaman Awwab.

Thursday, April 25, 2013

Sebuah Mimpi di Ufuk Timur

Mentari pagi di ufuk timur
Anggun, berwarna dan apik dalam terbitnya
Sangat memukau, kontras warna dengan gelap malam lalu
Warna yang nyata dalam hitam kelam ketakutan malam
Pertanda hari belum berakhir yang ditakuti insan beriman taqwa

Mentari pagi di ufuk timur
Tersipu malu dalam tidurnya
Tak ada awan disana, tak ada yang menghalanginya
Dia bebas menyinari insan yang kelam dalam kegelapan malam
Ah., indahnya ciptaan Allah Yang Maha Esa

Mentari pagi naik dari peraduannya
Sungguh indah dalam balutan warna menyala
Hangat, menyembuhkan luka yang lama tersimpan semalam tanpa seorang pun tahu
Cahayanya menembus jauh merasuk dalam kegelapan hati yang meronta-ronta dalam buta
Warna yang alami, sungguh alami tuk mengobati racun kepenatan dunia
Bara api terasa, serasa aku dibakar semangat menyala perang Badhar
Berkobar-kobar menyala tak terkalahkan dan sangat menyala

Ku masuki alam mimpiku dalam pejaman mata anugrah Allah Yang Maha Esa
Mengalihkan keindahan serta kedamaian yang aku rasa
Semua sama, tak ada yang beda
tak ada yang hilang dalam batas mayaku
Hangat, Terang, Membara, Berwarna
Dalam keindahan pagi mempesona
Aku tak ingin pergi dan aku tak ingin membuka batas mimpiku
Karena…
Dalam mimpiku, engkaulah sang Mentari pagi itu…

7 Agustus 2008
Karya: Aditya Dwi Pramono

Thursday, April 18, 2013

Pertamax

Untuk pindah ke suatu hal yang baru dan ninggalin yang lama emang butuh komitmen yang nggak cukup cuman di lisan aja. Bener nggak? Kalo musisi sih bilangnya “More than words” lah bahasa kerennya. Ya, pasti setidaknya temen-temen udah paham betul yang kayak beginian. Iya kan? :D

Terkait isu nasional tentang harga BBM yang baru kali ini, rencananya sih bakal naik Mei 2013 mendatang. Kebijakan sang Menteri memberlakukan dua harga untuk premium. Silahkan baca aja lebih lanjut disini.

Well, terlepas dari saya setuju atau nggak, terkait kebijakan itu. Saya sudah hampir dua tahun beralih ke Pertamax. Awalnya ya emang berat sih make bensin yang harganya 2x lipat harga normal. Tapi ya seperti yang diawal kita pahami bareng-bareng, komitmen yang ngejawab. Ada beberapa alasan kenapa saya tetep keukeuh pake Pertamax.

1. Mesin lebih awet
Alasan yang paling umum adalah biar mesin motor lebih awet, soalnya nilai oktan Pertamax lebih tinggi dari Premium. 92 vs 88. Nilai oktan ini pengaruhnya dimana? Pengaruhnya di kualitas pembakarannya, makin gede oktannya, makin sempurna pembakarannya. Nah kalo sempurna pembakarannnya, berarti sisa pembakaran pun makin sedikit yang artinya, nggak ada sisa-sisa pembakaran yang masih ngeganggu di proses selanjutnya. #CMIIW Dari kata sempurna dan ngeganggu kayanya bisa diambil kesimpulan sendiri lah ya kenapa mesin lebih awet. hehehe

2. Makin bijak pake motor
Ya, karena Pertamax lebih mahal, saya jadi lebih bijak pake motor. Kebetulan dari kostan ke kampus kurang lebih hanya 500m aja. Jadi kalo bukan urusan yang mendesak dan nggak buru-buru, saya lebih suka jalan kaki. Dan berhubung saya pun jarang keluar ke kota, jadi ya., cukup lah sebulan 2x ke SPBU nya. Ya sebulan paling ngabisin paling maximal 10L aja. Dan saya nggak sungkan kalo biasanya saya harus jalan kaki 1km lebih buat ke ATM di pasar belakang kostan. Minta anter temen pun, saya lebih suka sampai daerah yang gampang naik angkotnya. Selebihnya ya ngangkot, naik angkot kan bukan hal yang memalukan kali.

3. Makin bijak beli bensin
Beli bensin yang biasanya jadi kegiatan mingguan yang biasa aja. Tapi semenjak pake Pertamax, agenda beli bensin itu jadi berasa meaning dan berarti banget. Selain bakal ngerogoh kocek yang lebih dalam, kudu mikir juga sisa uang biar nggak ada yang keganggu jatahnya. Apalagi yang harga Pertamax bakal ganti tiap tanggal 1 sama 15 tiap bulannya. Ya, jadi challenge gitu lah untuk ngegambling bakalan lebih murah atau mahal harganya. Tapi nggak usah kuatir kok dengan harganya, justru dengan make Pertamax, manajemen uang kita makin terlatih, makin hemat (hemat disini bukan pelit loh ya, maksudnya nggak beli barang-barang yang konsumtif dan nggak kita butuhin secara berlebihan). Jujur aja sih, dulu saya konsumtif, barang yang nggak dibutuhin juga dibeli, entah cuman jadi pajangan atau dibuang nantinya.

4. Khusus
Terkadang di SPBU tertentu, bagi pengguna Pertamax itu nggak perlu ngantre nguler panjang kaya mau beli sembako. Yang mau beli premium kadang panjang antreannya, yang Pertamax sung nggak usah pake antre. Hehe.

5. Mengurangi beban negara
Kalo temen-temen sering ngikutin berita subsidi BBM, tiap tahun bukannya subsidinya makin kecil tapi justru makin ngebludak. Duit negara yang seharusnya jadi sarana-prasarana yang bakal kita nikmatin bersama, buat anak-cucu kita, malah dipake buat nutupin subsidi BBM yang notabene nya ‘kurang tepat sasaran’ melulu. Karena sasarannya kan buat rakyat yang tidak mampu.
Kalo menurut saya sih, saya nggak mau dianggep jadi orang nggak mampu dan jadi ‘tanggungan’ negara melulu, padahal mungkin HP’y aja BB,Smartphone,sandang’y udah grade ori semua, terus masih mau dibilang nggak mampu juga? Kalo ada yang jawab “kan masih tanggungan orang tua, bro”. Betul banget tuh, masih tanggungan orang tua, tapi uang bulanan yang dikasih mereka jadi tanggung jawab kita kan? Cobalah jangan mikir yang konsumtif, kalo udah di subsidi dari orang tua, terus dapet subsidi juga dari pemerintah tapi tetep jadi tanggungan yang kurang produktif.
Urusan negara bukan cuma ngurusin BBM aja kan, masih ada urusan-urusan lain yang lebih penting dan lebih darurat lagi.

Seperti yang saya bilang diawal, pindah dari hal lama ke yang baru butuh komitmen yang besar. Saya yakin temen-temen punya alasan dan sudut pandang tersendiri. Atau justru malah pengen bikin tulisan tandingan kenapa kita harus pake Premium. haha. Sah-sah aja kok. :) Kalo mau dikasih perumpamaan, kaya flashdisk dijaman sekarang dah. Dulu harganya tuh mahal banget yang sizenya nggak nyampe 1 GB. Yang punya flashdik berasa punya barang mewah gitu. Sekarang, flashdisk berasa kacang, yang ukuran 8GB aja kurang dari 100rb (bahkan kurangnya banyak banget). Walhasil, flashdisk bukan jadi barang mewah lagi unik. Hampir semua orang IT dan non-IT punya flashdisk. Sama kaya Premium, orang pun ngekonsumsi biasa aja, karena harganya ‘murah’. Beli motor pun ya biasa aja, beli mobil juga biasa aja. Toh bensinnya juga ‘murah’. Pergi kemana aja pake motor ato mobil masing-masing (5 orang saling kenal ke tempat yg sama, pake 5 kendaraan) juga biasa aja. Beli makan di warung sebelah yang jaraknya nggak nyampe 100m pake motor juga biasa aja. Maka, jangan heran kalo macet di kota pun dianggepnya biasa aja. Tarif kendaraan umum makin mahal dianggepnya biasa juga. #CMIIW

Kita negara yang berkembang dan tingkat kesejahteraan kita masih jauh dari negara-negara Eropa atau Amerika dan negara maju lainnya, tapi konsumsi BBM kita masih di peringkat atas. Jakarta Ibu kota negara kita tercinta, nggak seharusnya menempati peringkat atas tingkat kemacetan di dunia. Kita negara berkembang, tapi justru tingkat koruspinya menempati peringkat atas pula. Lama-kelamaan muncul opini: “kok nih negara sombong banget ya.,udah tau masih berkembang,tapi make BBM’y gila, boros, sampe macet dimana-mana, masih banyak yang korupsi pula.” Ckckck.

Dan itu tantangan buat kita semua. Para muda-mudi bangsa buat ngerubah semuanya. ^.^ Kita bisa kok. Bersama-sama. Tanpa pandang SARA, yang penting karya, buat kemajuan kita bersama, yang penting kekompakan tetep terjaga, komitmen perubahan negara ke arah yang lebih baik ada di dada, dan yang paling utama: Allah, Tuhan ada di hati kita. Saya yakin kita semua bisa. :)

Ayolah belajar pake Pertamax, rasain bedanya, dapetin manfaatnya. Pertamax itu buat orang-orang yang nggak mau disebut orang normal selayaknya mayoritas orang bertindak. Pertamax itu buat orang yang nggak mau dianggep nggak mampu dan jadi tanggungan negara, padahal dia mampu, Pertamax itu buat orang yang mau peduli dan mau berfikir jauh ke depan agar nggak konsumtif. Pertamax itu buat orang seperti kamu. Ya.,yang keren, dan penuh karya, tidak manja, dan mau belajar untuk mendapatkan manfaatnya.

#SaatHujanRintik

N.B
Saya nggak ngebahas BBM ditinjau secara ekonomi (yang nyebabin harga-harga dalam proses distribusi,dsb), saya juga nggak ngebahas BBM yang kaitannya dengan sasaran pemerintah: nelayan,angkutan umum,dsb.

 
Copyright (c) 2010 Bermula dari Awal and Powered by Blogger.