Saturday, August 04, 2012

Bertahap saja, tak usah buru-buru

Waktu itu kami sedang mengobrol santai di lab. Mungkin nggak bisa dibilang obrolan santai juga sih, soalnya topiknya lumayan berat: paradigma agama. Hehe. Topik yang cukup menarik untuk sekedar di-floor kan di sebuah forum. Setidaknya itu semua menambah pemahaman yang berbeda dari sudut yang beda pula dalam melihat Islam.

Setelah kami putuskan selesai, a friend of mine asked me.

“Eh dit, boleh curhat nggak? Tapi aku rada malu nih ngomonginnya.”

Wow, ini kali ke berapa seorang teman curhat. (padahal nggak lebih dari lima orang). “Mmm.,ya sok ja..insyaAllah tak bantu sebisa aku ya..” *sambil senyum-senyum*

Well, inti masalah teman saya adalah dia ingin berubah dari salah satu sifatnya yang menurutnya nggak baik. Dan lagi, pertanyaan yang menohok. ‘Pantas nggak ya ngejawab? Diri sendiri pun masih banyak sifat dan targetan yang berlubang’. Tapi tak apalah, tak ada salahnya untuk memberi nasihat, toh nanti nasihat itu pun akan memberikan lecutan pada saya pribadi untuk melakukannya juga.

“Dulu, pas kuliah di kelas Pa Kore, beliau pernah cerita tentang mahasiswanya yang pengen berubah juga. Beliau cerita kalo mahasiswanya itu minta nasehat biar TA-nya lancar. Jadilah Pa Kore mengintrogasi si mahasiswa. Ternyata si mahasiswa itu selalu tidur lebih dari jam 12 malem. Jam 1 atau jam 2 malem. Bangunnya pun sering kesiangan.

“Coba kurangi maen kamu dek, terus tidur usahakan sebelum jam 12 malem. Itu dulu. Kalo itu udah bisa, baru kamu ngadep kesini lagi. Kurangin jam tidurnya jangan langsung jam 10. Bertahap aja, ntar malem jam setengah 2, malemnya lagi jam 1, atau terserah lah yang penting bertahap. Kalo udah berhasil, baru kamu kesini lagi.”

Begitulah jawaban saya untuk curhat teman saya yang satu ini. Hanya repost dari petuah seorang dosen. Tidak puas? Baguslah, jangan sampai puas dengan satu jawaban. Apalagi kalo jawaban itu dari saya. Hehehe

Stairs

Dan ketika itu pun, kebetulan saya sedang mengurangi ketergantungan saya dengan sosial media. Dan saya mempraktekan yang Pa Kore ceritakan. Bukan untuk tidur sebelum jam 12 malam (walaupun emang itu salah satunya), tapi secara bertahap mengurangi waktu bersosial media. Dan secara tak sadar, itu berhasil. Sampai sekarang, sehari hanya 30 menit saja. cukup.

Karena itu memang sifat alami manusia untuk menerima secara bertahap, tidak sekaligus. Sama seperti bagaimana Al-Qur’an diwahyukan ke Rasul Allah. Sama seperti sistem pendidikan yang kita pakai: dari TK, SD, SMP, SMA, dst. Bahkan sama seperti sistem kerja hampir semua benda dalam bergerak: dari lambat menuju cepat secara bertahap. Jadi pantas aja kalau ada yang bilang bahwa ‘yang instan’ itu nggak baik. Ya, karena itu menyalahi aturan alam. Bukankah yang alami lebih baik?

Dan saya berharap di Ramadhan ini pun kita semua demikian. Tak usah buru-buru dalam mengerjar targetan Ramadhan tahun ini. Bukankah banyak da’I dan da’iah yang bialng kalau Ramadhan=Training? Jadi manfaatin ja bulan Ramadhan ini dengan latihan. Bertahap aja. Mana yang pengen dilatih, latihalah.. biar bisa meningkat amalnya.

Lagipula, kalau kita maksain, hasilnya ya sama aja: Cuman baik di bulan Ramadhan doang. Setelahnya entah bagaimana kabar baiknya berubah. Setelah ambisi ngerampungin targetan selesai, ya sudah, cenderung malas dan susah berbenah diri lagi menyambung targetan baru.

Kita nggak mau kan kalo Ramadhan jadi tradisi untuk bersolek aja? Setelah itu nggak ada bekas yang masih terasa. Semua sama aja ketika sebelum dan setelah Ramadhan. Masa kita mau rugi di pasar yang untungnya super duper gedhe? Hanya orang yang bodoh dan malas saja yang mau rugi di pasar yang semuanya menyajikan keuntungan super besar. Bahkan lebih besar dari yang kita bayangkan.

Yuk sama-sama nikmatin proses latihannya, nggak usah buru-buru… ^^

#Semoga Ramadhan tahun ini berkah dan amal kita diterima.

N.B

Terima kasih untuk teman saya yang sudah memberi inspirasi dalam cerita ini. Maaf kalau saya bawa-bawa kemari. hehehe

3 comments:

 
Copyright (c) 2010 Bermula dari Awal and Powered by Blogger.