Monday, April 16, 2012

Bencana, Pendidikan dan Rekayasa Trafik

Sekilas memang tak ada hubungannya tiga kata tersebut. Mereka indpendent dalam batasan ruang makna definisnya masing-masing. Tapi tidak untuk kali ini.

Bermula dari informasi seorang teman (sebut saja C) saat beres-beres lab untuk hajatan kampus. Saat itu hari Rabu 11 April 2012.
C:"Gempa 8,5 SR terjadi di Aceh"
Sya : "Innalillah............, ada potensi tsunami nggak?"
C: "nggak tau dit.,"
Pikir saya,setelah kegiatan ini selesai,saya akan mencari tahu sendiri detail beritanya di internet. Nanti di kostan. Pembicaraan kami berlanjut lagi, tapi dengan topik yang berbeda.

Kuliah sore ini agak berbeda, dosen yang biasanya datang hampir on time, namun telat datang yang tidak sperti biasanya. Ternyata alasannya karena materi hari ini hanya pembagian berkas hasil ujian. Oooh noooooo. Saya nggak mau bahas-bahas nilai disini, pamali. hahaha. Setelah semua berkas terbagi sesuai nama pemiliknya, dan komplain terlayani dengan baik, Ibu separuh baya tersebut memberikan standing speechnya seperti biasa.
"Kerbau saja bisa pinter kalo belajar.." poin #1 yg saya cerna. "Pinter itu bukan sesuatu yangg dibanggakan, lah itu suatu keharusan kok.." poin #2.
"Target itu jangan jadi orang pinter, pinter itu keharusan, target juga jangan jadi orang kaya, kaya itu harus. Target juga jangan masuk syurga, karna masuk syurga itu juga harus.." poin #3 yg menohok
"..karna kalo targetnya kaya gitu, kalo meleset ya udah., nggak dapet. Kalo target masuk syurga, terus meleset, berarti msuk neraka dong...." poin #4 lebih menohok lagi.
Akhirnya kelas diakhiri juga, namun poin-poin itu masih saja tertempel jelas, bukan dalam pikiran (saja), tapi dalam hati juga.

Keesokn harinya, Kamis 12 April 2012 hajatan kampus pun datang. Persiapan yang telah kami lakukan alhamdulillah berbuah hasil: nggak ada pertanyaan aneh-aneh, dan nggak ada kunjungn misteri. (setidaknya, kami sudah melakukan persiapan sebisa kami). Akhirnya saya pulang setelah maghrib, tapi bukan ke kostan langsung, mampir ke Rupin (Rumah Pintar) RW 13 Sukabirus. Alhamdulillah, saya sebagai volunteer yang mengajar adek-adek SD dan SMP yang punya semangat belajar disana. (Sekalian promosi. Hehehe)

"UN'y kapan ham?", tanya saya ke salah satu anak SMP kelas 3 Rupin. "dua minggu lagi ka, kalo Senen ini mah UN SMA ka", jawab ilham. Pelajran sore itu berlanjut. Saya sadar, pendidikan ini sangat alot, saking alotnya, banyak orang yang makin apatis dan nggak mau peduli lagi dengan pendidikan di negerinya sendiri. *sudahlah ini topik yang berat, saya nggak punya kewenangan dan nggak cukup data untuk menuliskannya.,hehehe*

Sabtu 14 April, alhamdulillah saya dapat kesmpatan pulang kampung, setelah rencana pulang hari Kamis gagal akibat adanya hajtan kampus. Bertolak dr kostan pukul 5.45 pagi, dan smpai di rumah pukul 1 siang. Di rumah, saya disambut dengan pertanyaan-pertanyaan Ayah tentang apa yg selama ini dilakukan anak keduanya ini di Bandung, nantinya mau kemana arah setelah lulus, dan bidang apa sih yang sebenernya di dapat di kampus. *bener-bener dah, pembiicaraan serius* biar nggak serius-serius amat, saya sambil curhat aja, itung-itung ngeluarin unek-unek untuk sekedar refreshing.,hehe

Saat di rumah, saya melihat berita di TV tentang persiapan UN SMA hari Senin ini. Kebanyakan mereka menggelar doa bersama dan dzikir masal. Channel berita lain nayangin bencna gempa bumi di Aceh, bagaimana wrganya berhamburan, macet total, dll. Bahkan banyak dari mereka yang lari ke dalam masjid. Entahlah. Mungkin dalam keadaan tidak sadar, mereka akan berlari dan secara acak mencari tujuan.

Sekilas memang nggak tampak aneh, tapi entah kenapa respon hati ini berbeda, me-loading ingatan poin-poin kalimat dari dosen tentang "masuk syurga itu harus", rasanya ada yang salah dengan berita-berita tadi. Jujur, saya dulu ketika akan UN SMA pun, sekolah mengadakan hal yang serupa, dulu ketika ada gempa di Bandung, saya berhamburan keluar secara acak. Tapi entahlah, bukan masjid yang saya tuju, tapi tanah lapang.

Lantas, kalau "masuk syurga itu suatu keharusan" apakah dalam tiap kita 'butuh Dia' saja kita mendekat? Itukah yang namanya keharusan? Atau hanya target yang mempunyai kemungkinan meleset? Entahlah.

"Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan,"
QS. Yunus (10:12)

Kita nggak mau kan jadi orang-orang yang tersebut dalam ayat qur'an di atas? Maka kalau masuk syurga itu keharusan, tak perlu menunggu bencana dulu atau tak perlu menunggu ada ujian dulu untuk mendekati dan lebih mengenal-Nya kan? Dia selalu terbuka kok, siang malam, 1x24 jam, 7 hari dalam seminggu. ^^
#Bismillahirrohmaanirrohiim

#Saat perjalanan menuju Bandung

2 comments:

 
Copyright (c) 2010 Bermula dari Awal and Powered by Blogger.