Sunday, September 29, 2013

Day #2 Tiga Destinasi


*Bunyi alarm*
Jam 5.15a WITA saya terbangun, masih pagi sekali saat itu. Tak ada semburan merah-orange khas fajar. Semuanya masih gelap. Ambil wudhu, saya sempatkan sholat dua rakaat. Tak lama kemudian, adzan shubuh berkumandang. Sayup-sayup. Jangan bayangkan seperti suara yang biasanya kita dengar di rumah: saling bersaut-sautan antar masjid satu dengan yang lain dan menggema karena gedung-gedung tinggi. Disini, bisa mendengarnya saja sudah beruntung. Kau tahu, itu adalah suara adzan pertama yang kami dengar di pulau ini. Bali.

Segera kami bergegas akan beraktifitas pagi itu: bersepeda. Hey, guest star kita sudah datang pagi-pagi sekali: Pepe dan Astawa sembari menunggu 'dandan' kami dengan menyantap kudapan Bali bersama teh hangat. Menit berikutnya, kami memilih sepeda. Mine? Sepeda lipat kecil yang nanti akan saya ceritakan betapa ....... memilih sepeda jenis ini.

Pukul 5.49 WITA mulai mengayuh sepeda

Sebagai tuan rumah dan tuan pulau, Kompe tentu berada di depan rally sepeda ini: pemandu jalan. Bahkan tujuannya saja kami tak tahu. Dibawa ke sarang buaya pun kami ikuti (yang ini nyata loh ya, bukan melebihkan). Hahaha

Suasana Jum'at pagi waktu itu sepi, hanya ramai pasar saja. Sisa-sisa malam sepertinya masih awet jam segini. Barulah ketika mata sudah bisa membedakan benang merah dan orange dengan benar, orang-orang mulai bermunculan. Beranjak dari tempat tidurnya. Mencari sarapan, jalan santai, atau bergegas pergi sekolah.

Akhirnya kami sampai di Pantai Mertasari. Menikmati sunrise sesaat yang mulai meninggi. Dari situ, kami lanjutkan mengayuh, menyusuri pesisir pantai tenggara pulau Bali. Pemandangannya sederhana, sebelah kiri kawasan perhotelan elite, sebelah kanan adalah pasir putih lengkap dengan riak air laut.

Ternyata, pantai-pantai ini saling terhubung. Garis pantainya sama. Kami sampai di Pantai Sanur, pantai yang tak lebih dari 1x24 kemarin jam kami kunjungi. Istirahat barang meluruskan kaki sambil sarapan pagi. Makan di tepi bantalan pantai. Sambil mengamati air laut yang mulai pasang seperti mengisi bak air mandi: lama kelamaan makin tinggi tertutup air. Pemandangan ini makin lengkap dengan pemandangan dua orang yang sedang galau registrasi. Pffft. A’int no time for that. Hahaha.

Sunrise di Pantai Mertasari

Sarapan di bantalan Pantai Sanur
Hari ini awal registrasi kuliah, sedari kemarin dua orang ini (Yudha dan Lerry) berniat bangun pagi-pagi sekali untuk berebut mata kuliah dengan ratusan orang diluar sana. Tapi nyatanya, akumulasi capek perjalanan dan jet-lag membuat mereka susah terjaga dari mimpi indahnya. Dan galau ini akan terus berlanjut sampai akhir perjalanan. Mengisi topik pembicaraan ringan kami, yang tentu harus melewati olokan dan cercaan terlebih dulu.

Puas mengisi energi, kami lanjutkan perjalanan kami bersepeda menyusuri pantai. Hey, di daerah yang jauh dari Dayeuh Kolot pun, saya masih saja nemu anak IT Telkom di liburan ini: berpapasan naik sepeda. What the hell. Stunned. Beliau sahabat saya sekaligus koordinator satu sub-divisi di organisasi pertama yang satu ikuti selama di kampus. Butuh waktu sekian detik untuk mengembalikan kesadaran saya lagi. Aaah, lelucon ini lagi.

Lanjut mengayuh, kami dibawa ke suatu tempat yang dulunya taman hiburan mirip Dufan di Jakarta atau BCL di Bandung tapi persis di pinggir pantai. Ingat kata intinya: ‘dulunya’, berarti sekarang hanya puing-puing bangunan dan semak belukar yang lebih mirip Candi Prambanan pas pertama kali ditemukan. Mungkin. Nggak keurus, daun-daun berserakan, berlumut. Dan dulu ada buaya yang lepas dan belum ditemuin sampe sekarang. (Kan, kami dibawa ke sarang buaya beneran). Warga sini sih bilang ini tempat yang angker banget. Makanya ketika di dalam taman ini ada pura, Kompe, Astawa dan Pepe sembahyang disana. Atau mungkin berdoa meminta tolak bala dari bersepedaan seliweran di taman ini. Segera kami lewati suatu gapura yang mungkin dulunya adalah gerbang keluar masuk menuju taman hiburan ini. We’re heading home.

Bersepeda di bekas taman hiburan
OK, medan sepeda kali ini bukan jalanan setapak di pinggir pantai. Tapi jalan raya. Dengan sepeda lipat kecil ini plus diameter ban yang kecil, dan jangan lupakan postur tubuh saya yang tinggi, tingkat ke-cape-an makin meningkat. Bayangin aja, untuk sekali kayuh dengan sepeda ini, jarak yang di tempuh nggak sejauh yang dicapai dengan sepeda ukuran normal yang mempunyai diameter ban lebih besar. Walhasil, saya selalu tertinggal di belakang. Mensejajarkan mereka yang mengayuh santai, setara dengan mengayuh sepeda ini dengan lebih dari sekedar santai agar tak tertinggal. Menyedihkan. Tapi justru itu jadi cerita berkesan tersendiri bukan?. J
Pukul 11.00 WITA, kami sampai di rumah Kompe. Mengakhiri rally sepeda hari itu selama 5 jam 11 menit.


Pukul 12.30 WITA Sholat Jum'at

Pantang bagi saya memakai pakaian yang biasa: baju kaos dan celana jeans. No way. Ini hari Jum'at. Saya siapkan baju terbaik yang saya bawa dengan celana no jeans. Saudara-saudara kita penghuni asli pulau ini saja bangga dan selalu memakai pakaian istimewanya ketika melakukan ibadah. Cantik-cantik, ganteng-ganteng. Saya sebagai tamu, sebagai Muslim, tak mau tertinggal: mengenakan baju Muslim terbaik yang saya bawa. Harus makin ganteng. Mungkin sedikit berlebihan atau lebay, tapi itu beneran terjadi. Ego minoritas saya berhasil keluar. Kami berlima berangkat menunaikan kewajiban Muslim kami. Masjidnya cukup jauh, jadi kami gunakan sepeda motor. Dan lihatlah, melihat dan bertemu saudara semuslim bergegas menuju masjid lengkap dengan atribut ibadahnya itu pemandangan yang luar biasa sekali. Sangat.

Jauh-jauh ke pulau Bali, ternyata sholat Jum'at di Masjid An-Nur juga (masjid An-Nur adalah masjid samping kosan saya di Bandung. Yang berarti, hampir tiap sholat Jum'at dan fardhu selama di Bandung, saya jadi jama'ah setianya). Itu adalah sholat Jum’at perdana seumur hidup saya di pulau yang minoritas Muslim. Dan semoga bisa saya rasakan lagi. Semoga.

Agaknya letih sehabis bersepeda nggak cukup dipulihkan dengan istirahat satu jam dan tidur ayam saat khotbah tadi. Nyatanya, kami memilih menambah porsi tidur siang dari jadwal yang sudah disepakati bersama untuk move on ke perjalanan selanjutnya. Dan tentu, ada resiko yang harus ditanggung akan hal itu. Kami baru berangkat jam 4.02p WITA menuju destination berikutnya.

Pukul 6.13p WITA kami sampai di Karma Kandara. Pantai yang letaknya di selatan pulau Bali. Percis menghadap ke Laut Selatan. Untuk menuju pasir putihnya, kami harus menuruni tebing terlebih dahulu. Menuruni tangga. Kalau boleh saya bandingkan, Karma Kandara adalah Cliff of Moher-nya Indonesia. Hehehe. Sayangnya, resiko berangkat lebih sore baru kami rasakan sekarang: kami nggak bisa berenang di pantai karena matahari di ujung sana sudah mengantuk, pergi menuju tempat peristirahatannya. Suasana pantai makin gelap. Nggak baik memaksakan berenang malam-malam. Kami putuskan segera naik. Ah ya..naik kawan! Belum pulih benar capek bersepada tadi pagi (dengan sepeda kecil), sekarang harus naik bukit di sore harinya. Sepertinya ini ganjaran duduk selama 13 jam di kereta Sri Tanjung.

Pantai Karma Kandara
Kami lanjutkan perjalanan, mampir di warung makan Muslim untuk mengisi energi, mampir sebentar untuk berfoto di patung Gatot Kaca (entah apa nama sebenernya). Setelah itu kami menuju Pantai Kuta. Pantai yang 10 tahun lalu menggemparkan Indonesia, menjadi headline berita-berita nasional hanya karena tiga huruf: BOM. 9.35p WITA kami parkir motor kami di pinggiran pantai. Apa yang akan dinikmati dari suasana pantai ketika malam begini? Entahlah...deburan ombak, semilir angin darat dan pasir putih mungkin cukup. Akhirnya, kami bereksperimen membuat projek Light Painting. Bagi pemula, hasilnya tak sebegitu buruk. Hehehe. Selesai projek, kami bergegas pulang pukul 10.57p WITA. Tak lupa kami sempatkan melongok sebentar monumen Bom Bali. Kawasan sekitarnya memang ‘pantas’ mendapatkan ‘sepercik api’ menurut aliran ekstrimis kanan. Musik bervolume keras, lampu disko, joget-joget, dan tentu bir. Kawasan diskotik elite terbuka sepanjang jalan. What do you expect? Budaya barat malam hari ditempatkan di kawasan budaya timur seperti ini. Tabu.

Mampir di patung Gatot Kaca
Light painting di Pantai Kuta

Barulah kami sampai di rumah kompe pukul 11.44 WITA. Menutup perjalanan tiga destinasi sekaligus dalam sehari. Menjadikan Jum’at hari terpadat dan ter-capek di list perjalanan ini. Kami bebenah, bersiap tidur.

Hey.., kami belum menyapa dan bertemu Tuhan kami. Sholat Maghrib jama’ Isya. 

0 comments:

 
Copyright (c) 2010 Bermula dari Awal and Powered by Blogger.